Sejarah Sekolah (2)
Maka
sejak saat itulah telah beralih sebagian dari fungsi scola matterna (pengasuhan
ibu sampai usia tertentu) yang merupakan proses dan lembaga sosialisasi tertua
umat manusia, menjadi scola in loco parentis (lembaga pengasuhan anak pada
waktu senggang di luar rumah, sebagai pengganti ayah dan ibu). Itulah pula
sebab mengapa lembaga pengasuhan ini kemudian biasa juga disebut ‘ibu asuh’ atau ‘ibu yang memberikan ilmu
(alma mater).
Waktu
terus berlalu. Para orangtua makin terbiasa saja memercayakan pengasuhan putra-putri
mereka kepada orang-orang atau lembaga-lembaga pengasuh pengganti mereka di
luar rumah tersebut, dalam jangka waktu yang semakin lama dan dengan pola yang
semakin teratur pula. Karena makin banyak anak yang harus diasuh, maka mulai
pula diperlukan lebih banyak pengasuh yang bersedia meluangkan waktunya secara
khusus untuk mengasuh anak-anak disuatu tempat tertentu yang telah disediakan,
dengan peraturan yang lebih tertib, dan deangan imbalan jasa berupa upah dari
para orang tua anak-anak itu.
Adalah
seorang Johannes Amos Comenius, uskup agung Moravia, melalui mahakaryanya yang
kemudian dianggap sebagai fons et origo-nya ilmu pendidikan melontarkan gagasan
pelembagaan pola dan proses pengasuhan anak-anak itu secara sistematis dan
metodis, terutama karena kenyataan memang adanya keragaman latar belakang dan
proses perkembangan anak-anak asuhan tersebut yang memerlukan penanganan
khusus.
jadi sesungguhnya hakikat sekolah adalah tempat pengasuhan, tempat menghabiskan waktu luang dengan cara belajar, bermain dan bergembir. Bukan sebuah lembaga yang kemudian membelenggu peserta didiknya dengan seperangkat aturan, tata nilai yang harus dijalankan. Kewajiban yang disusun sedemikian rupa, yang imbasnya adalah hukuman ketika anak tersebut melanggar tata tertib yang dibuat. Seringkali pula sistem sekolah hari ini menjadi perusahaan yang mencetak output yang seragam, mengatur segala sesuatunya serba sama, menetapkan kriteria yang sama pada peserta didiknya. Selayaknya sebuah perusahaan yang mencetak barang sama untuk kemudian dijual kepasar bebas.
Lantas apakah demikian yang kita harapkan? benarkah kita suka melihat anak-anak kita terpangkas bakat alaminya, terbunuh karakternya hanya karena ia berbeda dengan teman sebayanya? kalau jawaban kita iya, maka sesungguhnya kita adalah pembunuh paling kejam. Karena pembunuhan yang sebenarnya adalah pembunuhan karakter, dimana kita mengelompokkan anak didik kita dalam strata pandai dan bodoh dengan kriteria yang kita bangun sendiri tanpa melihat potensi anak.
Komentar
Posting Komentar