Peran Figuran

Seorang ibu bisa menjadi ibu,namun dalam beberapa kondisi,ia juga bisa jadi ayah. Namun tak banyak ayah yang bisa sekaligus menjadi ibu untuk anaknya. Adakah yang setuju dengan pernyataan tersebut? kalau saya iya,karena dalam beberapa kasus ibu perempuan seringkali ambil bagian menjadi peran ganda dalam keluarga. Kalau mau contoh nyata mari kita lihat ruang-ruang publik yang kian banyak diisi oleh perempuan, dan serta merta banyak dari mereka yang membawa putranya ikut bersama dalam pekerjaanya.

Pernahkan kita perhatikan penjual di pasar,di pinggir jalan atau pengemis perempuan yang menggendong anaknya ketika mereka mengemis. Jika mungkin ada yang menemui kasus dimana hal demikian itu disengaja agar mendapatkan belas kasihan dari orang lain, memanfaatkan anaknya,eksploitasi anak atau bahkan sengaja menyewa anak-anak itu untuk diajak berkeliling. Mungkin benar untuk beberapa kasus khususnya di kota besar. Tapi,ada juga mereka yang benar-benar dalam kondisi tidak punya pilihan,hingga harus membawa serta buah hatinya. Mereka yang mungkin meminta-minta disepanjang perempatan lampu merah dengan menggendong anaknya saya yakin ada yang memang karena keterbatasan biaya,tidak punya kerabat untuk dititipi,ada pula yang dalam kondisi tidak mampu bekerja karena kesehatan atau juga tidak punya skill. 

Saya selalu percaya sejatinya orang tua entah siapapun akan punya cinta dan belas kasihan pada putra-putrinya. Setiap orang tua pasti tidak ingin melihat anaknya kepanasan,terkena debu, menghirup polusi kendaraan, yang akan membuatnya sakit. Namun kadang kondisi tidak memungkinkan untuk menghindarkan semua itu. Jika dalam undang-undang negara kita ada pasal yang berbunyi "anak-anak terlantar dipelihara negara" maka apa boleh mereka di klasifikasikan didalamnya sehingga pemerintah diharuskan ikut andil memberikan perlindungan bagi anak-anak para pengemis ini, mungkin dengan membantu penitipan anak gratis.

Selain itu pelatihan Skill bagi ibu pengemis juga kian digalakkan sehingga mereka tak harus lagi turun kejalan. Mereka bisa dilatih dan difasilitasi modal agar mampu berdaya mengembangkan ekonomi keraknyatan yang digadang-gadang menjadi solusi bagi peningkatan ekonomi bangsa.

Selain perempuan pengemis,saya juga akan mengambil contoh perempuan dengan peran ganda sebagai penopang ekonomi keluarga. Mereka yang bekerja dipasar,berjualan seringkali membawa serta putra-putrinya. meski tidak harus berpanas-panasan dan menyusuri jalan,lingkungan pasar juga bukan tempat yang tepat untuk anak-anak. Sementara dalam budaya kita laki-laki dianggap sebagai orang yang harus dihormati,disanjung,dilayani dan tak dibenani dengan kegiatan pengasuhan. 

Perempuan yang sudab bekerja sebagai pencari nafkah juga masih dibebani untuk mengurus rumah. wilayah domestik tetap menjadi tanggung jawabnya meski ia juga sudah ikut berperan sebagai pencari nafkah. Selain mindset perempuan yang senantiasa menempatkan dirinya diposisi kedua,peran masyarakat yang memiliki paradigma tabu untuk laki-laki ikut mengurus rumah tangga juga menjadi faktor pendorong perempuan dengan beban ganda.

Komentar

  1. Perempuan itu strong, meski dari luar terlihat lemah....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul...perempuan selalu luar biasa,ia bs lebih dari apa yang ia pikirkan

      Hapus
  2. Perempuan tak boleh dipandang rendah.

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah, selalu bisa berbagi tugas dengan paksu

    BalasHapus
  4. Yang terjadi dimasyarakat seperti itu..,tetapi tidak semuanya

    BalasHapus
  5. Perempuan memang dituntut serba bisa ketika sudah menikah. Semangaaatt mbak untuk menulis.

    BalasHapus
  6. iya benar dan setuju. ibu aku yang single mom adalah buktinya :')

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia itu,kita yang rasa!

MEMBACA TAK SEKEDAR MENGEJA KATA

Hidup itu hanya soal hati