Mau Jadi Apa itu Pilihan
Pagi menjadi hari yang sama dengan hari-hari sebelumnya bagi
carisa, dia tak lagi memperhatikan jam yang ada disudut kamarnya. Sepanjang malam
ia tak bisa memejamkan matanya sekedar untuk melepaskan penatnya. Semua masih
seperti kemarin, tas punggung yang selalu dia kenakan dengan penuh sukacita
kini hanya tegeletak di kasur tidurnya. Pagi yang selalu dinantikanya kini tak
lagi dihiraukanya, hari berganti hanya soal perputaran jam, tak lagi
disambutnya. Bahkan suara ayam berkokok tak berbeda dengan detik jam ia dengar
tak mampu membuatnya bangkit.
“sa,
ini sudah pagi nak, ayo bangun!!”
Suara seorang wanita paruh baya terdengar pelan membangunkan
karisa seraya mengetuk pintu. Ia kembali membangunkan putri kesayanganya dengan
suara lumayan keras dan terdengar cemas dengan nada sedikit memaksa.
Lamunan Carisa mulai berhamburan seketika saat suara pintu
didobrak namun tak berhasil terbuka. Mungkin karena pintu itu terbuat dari kayu
jati asli Bojonegoro yang terkenal kuat dan mudah rapuh. Meski sudah 5 tahun
pintu itu berdiri memisahkan kamar karisa dengan ruang makan yang tepat ada
didepan pintu itu, namun tak terlihat ada tanda kerapuhan pada pintu itu. Ia
tetap berdiri kokoh.
“ia bu,
sa nanti keluar, ini mau beberes dulu”
Meski dengan kekalutan yang masih tampak, ia mencoba menerima
semua realita yang harus ia hadapi. Gagal dalam ujian adalah sesuatu yang harus
ia Terima, tak ada gunanya terus meratapi , karena tak akan ada yang berubah
meski ia menangis sepanjang hidupnya sekalipun.
Ayahnya yang juga seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci
dengan air dan menaruhnya di atas api yang besar. Setelah tiga panci
tersebut mulai mendidih, ia memasukkan beberapa kentang ke dalam sebuah panci,
beberapa telur di panci kedua, dan beberapa biji kopi di panci ketiga.
Kemudian ia duduk dan membiarkan ketiga panci tersebut di atas
kompor agar mendidih, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun kepada putrinya. Putrinya mengeluh dan
tidak sabar menunggu, bertanya-tanya apa yang telah ayahnya lakukan.
Setelah dua puluh menit, ia mematikan kompor tersebut. Ia mengambil kentang
dari panci dan menempatkannya ke dalam mangkuk. Ia mengangkat telur dan
meletakkannya di mangkuk.
Kemudian ia menyendok kopi dan meletakkannya ke dalam cangkir. Lalu ia beralih menatap
putrinya dan bertanya, “Nak, apa yang kamu lihat?”
“Kentang, telur, dan
kopi,” putrinya buru-buru menjawabnya.
“Lihatlah lebih dekat, dan sentuh kentang ini”, kata sang ayah.
Putrinya melakukan apa yang diminta oleh ayahnya dan mencatat di dalam otaknya
bahwa kentang itu lembut. Kemudian sang ayah memintanya untuk mengambil telur dan
memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapatkan sebuah telur rebus. Akhirnya, sang ayah
memintanya untuk mencicipi kopi. Aroma kopi yang kaya
membuatnya tersenyum.
“Ayah, apa artinya semua
ini?” Tanyanya.
Kemudian sang ayah
menjelaskan bahwa kentang, telur dan biji kopi masing-masing telah menghadapi
kesulitan yang sama, yaitu air mendidih.
Namun, masing-masing
menunjukkan reaksi yang berbeda.
Kentang itu kuat dan
keras. Namun ketika dimasukkan ke dalam air mendidih, ketang tersebut menjadi
lunak dan lemah.
Telur yang rapuh, dengan kulit luar tipis melindungi bagian
dalam telur yang cair sampai dimasukkan ke dalam air mendidih. Sampai akhirnya bagian
dalam telur menjadi keras.
Namun, biji kopi tanah yang paling unik. Setelah biji kopi
terkena air mendidih, biji kopi mengubah air dan menciptakan sesuatu yang baru.
“Kamu termasuk yang mana, nak?” tanya sang ayah kepada putrinya.
“Ketika kesulitan
mendatangimu, bagaimana caramu dalam menghadapinya? Apakah kamu adalah
sebuah kentang, telur, atau biji kopi?”
Carisa mulai mengerti apa yang ingin disampaikan ayahnya
padanya. Ia harus bisa tegar menghadapi masalah. Ia harus menaklukan tantangan
dalam hidupnya, ia harus mengubah dirinya sendiri untuk bisa mengubah
lingkungan sekitarnya.
Komentar
Posting Komentar