Cindelaras dan Ayam Ajaib
Di sebuah hutan hiduplah seorang wanita paruh baya yang cantik jelita,jika dilihat walau hanya sekilas kita sudah bisa melihat bahwasanya ia wanita dari golongan bangsawa,atu setidaknya berperawakan bangsawan. Meski mengenakan pakaian kebaya lurik yang biasa dengan jarik lusuh,namun paras cantiknya tak dapat disembunyikan. Perempuan itu hidup di dalam hutan terpencil bersama putra sematawayangnya yang ia beri nama "cindelaras". Perempuan itu hanya hidup berdua dengan cindelaras bukan tanpa sebab, ayah cindelaras masih hidup,namun ibunya tak pernah mau menceritakan pada cindelaras perihal sang ayah.
Rumah tempat tinggal cindelaras dan ibunya memang cukul jauh dari perkampungan warga,rumahnya jauh masuk dalam hutan belantara hingga tak banyak pula warga yang mengetahui keberadaan mereka. Mereka seperti orang yang memang sengaja disembunyikan atau diasingkan. Cindelaras kecil sudah terbiasa dengan kehidupan hutan dan seluruh penghuni didalamnya. Ia biasa bermain dengan para hewan liar dihutan,pun juga berburu untuk dimasak dirumah. Meski hanya hidup berdua,cindelaras tak pernah merasa bosan atau meminta untuk pindah tinghal diperkampungan. Meski usianya masih kecil,ia memahami kesedihan ibundanya yang tak pernah berani ia tanyakan. Ia hanya kadang-kadang memergoki ibunya yang menangis,sembari memegang sebuah cincin emas,mungkin itu peninggalan seseorang dimasa lalunya. Perihal ayahandanya pun cindelaras hanya memendamnya dalam hati,meski banyak hal yang ingin ia tanyakan pada sang ibunda,namun ia selalu mengurungkan niatnya tiap kali melihat kesedihan diwajah perempuan yang melahitkanya itu.
Cindelaras kian hari kian tumbuh dewasa menjadi anak laki-laki yang tampan dan juga bijaksana. Ia selalu menuruti apa yang dinasehatkan ibu padanya. Meski begitu,sebagai anak-anak yang mulai tumbuh remaja ia juga memiliki hasrat untuk memiliki kawan dan bwemain bersama teman sebayanya,maka tak heran kadang ia suka mencuri-curi kesempatan pergi meninggalkan rumah dengan alasan untuk berburu namun ia akan pergi ke pasar,ke perkampungan ataupun ketempat keramaian lainya.
Sikapnya yang baik dan mudah bergaul membuatnya mudah mendapatkan kawan dan juga berbaur bersama warga. Ia juga sering membantu ketika ada kegiatan manganan ataupun hajatan lainya di desa. semua warga memanggilnya dengan nama "laras" yang tinggal di dalam hutan,hanya itu yang mereka ketahui.
Pagi ini seperti biasa cindelaras mulao bangun dan pamit pada ibunya untuk berburu di hutan sekaligus mencari kayu bakar. Ibunya mengijinkan cindelaras pergi dan berpesan agar cindelaras kembali sebelum hari gelap. Cindelaraspun pergi ke hutan dengan membawa perlengkapan berburunya yakni busur,anak panah dan sebilah pisau yang akan digunakan untuk menguliti mangsanya. Di tengah perburuanya,ia melihat seekor rusa dibalik semak-semak. Dengan sigap cindelaras mengintai dan bersiap mengarahkan anak panah ke mangsanya sebelum akhirnya suara kokok ayam jantan membuyarkan konsentrasinya dan membuat hewan buruanya lepas.
Cindelaras yang geram dengan ulah sang ayam jantan,berbalik arah mencari sumber suara tersebut. Dia mulai menebas semua semak-semak yang menghalangi jalanya,hingga akhirnya ia sampai di sebuah tempat dimana ada seekor ayam jantan tengah bertengger di atas sebuah batu. Tanpa berpikir panjang ia segera meraih busurnya,memasang anak panah dan siap melesatkan tepat kearah ayam jantan itu. Tiba-tiba ayam jago itu berkokok "kukuruyukk...aku ayam jago yang hebat,tuanku bernama cindelaras,ia Putra raden putra penguasa jenggala...kukuruyukk" sontak cindelaras kaget dan tanpa sadar melepaskan anak panah namun untungnya meleset dr sasaranya. Cindelaras mendekati ayam jago itu pelan-pelan untuk memastikan pendengaranya.
Dan benar saja,ayam itu kembali berkokok masih dengan kalimat yang sama. cindelaras mulai penasaran dengan apa yang dikumandangkan sang ayam. segera ia menangkap ayam jago itu dan membawanya pulang.
Komentar
Posting Komentar