Selamat jalan Prof. Dr. Ing Bacharuddin Jusuf Habibie
Sore ini mendapat kabar duka, sang presiden ke-3 Republik Indonesia tutup usia.
Beliau adalah Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang biasa disapa B.J. Habibie. Beliau yang sepintas kita perkenalkan kepada anak-anak sebagai sosok genius, salah satu putra terbaik Indonesia yang kemampuanya diakui dunia, bagaimana tidak beliau diakui di kancah internasional sebagai seorang yang pandai dibidangnya. Beliau juga pernah membuat pesawat meski akhirnya tidak diproduksi lagi. Kiprahnya di panggung politikpun mulai diperhitungkan, ketika sang funding Father Presiden kedua RI bapak Soeharto menunjuk beliau sebagai penggantinya, menjadi Presiden ketiga Republik Indonesia. Diluar semua kontroversi mengenai kepemimpinan beliau yang sangat pendek yakni hanya 2 tahun, beliau tetap menjadi sosok yang dikagumi dan mulai diperhitungkan di Indonesia.
Di kalimat terakir saya katakan bahwa beliau mulai diperhitungkan, karena tipikal orang indonesia memang cenderung labil. Mereka yang ada dibalik layar dan tidak terekspos kepermukaan seringkali tidak diperhitungkan apalagi diidolakan. Begitupun Habibie yang kemudian “naik daun” dan mulai punya banyak penggemar selepas beliau menjadi Presiden. Banyak orang yang kemudian mencari tahu sisi kehidupanya, latar belakang pendidikan hingga prestasi apa saja yang pernah beliau torehkan semasa menempuh pendidikan dan pasca pendidikanya. Mereka yang memiliki hobi menulispun tak luput, berusaha menulis biografi seorang Habibie dan bahkan beberapa waktu yang lalupun kisah hidup beliau pernah diperankan menjadi sebuah film dimana animo masyarakat juga luar biasa.
Film yang diberi judul “ Habibie dan ainun” ini menjadi film terlaris dengan jumlah penonton mencapai 4,5 juta. Sungguh prestasi yang luar biasa untuk film tanah air bergenre roman. Meski film ini dominan mengisahkan tentang cinta Habibie pada ainun yang tak lekang oleh waktu dan hanya maut yang kemudian memisahkan mereka, film ini tidak membosankan seperti halnya film percintaan milenia hari ini. Kisah cinta ala 70-an yang tanpa banyak mengekspos kata-kata dengan pilihan diksi “rayuan” kemudian tidak ada juga dominasi kontak fisik yang banyak dipertontonkan sinetron hari ini. Semua serta natural sehingga penonton tetap bisa hanyut dalam kisah cinta yang dewasa.
Selain itu dalam film habibie dan ainun juga mengangkat kisah perjuangan habibie dalam dunia karirnya. Pergolakan seorang pemuda yang berjuang meniti karir dengan semua kesederhanaanya yang kemudian karyanya diakui dunia, namun karena cintanya pada tanah air membawanya kembali ke negerinya, yang saat itu belum bisa menghargainya selayaknya yang ditawarkan oleh negara lain. Jika bukan karena cintanya pada Indonesia, maka siapa yang akan rela meninggalkan semua kemewahan yang sudah didapatknya. Ia, semua memang karena cinta. Kesuksesan film ini kemudian ingin kembali diulang oleh hanung Bramantyo yang diangkat dari novel semi-biografi Rudy : kisah masa muda sang Visioner karya Gina S. Noer.
Film yang dirilis 30 juni 2016 ini menceritakan tentang kehidupan B.J. Habibie yang dalam film ini disapa Rudy yang merupakan nama panggilanya. Film ini berkisah tentang kehidupan habibie selama di jerman,tempat dimana ia menimba ilmu. Jika pada film sebelumnya kisah yang diangkat adalah kehidupan habibie dan karirnya hingga kemudian ia menjadi presiden, maka di film kedua ini aroma percintaan, kisah cinta segitiga habibie dengan wanita jerman yakni Ilona lebih mendominasi. Sebelum akhirnya berakhir dengan pernikahanya dengan Ainun. Jadi film kedua ini semacam flash back yang mengangkat sisi lain dari film yang pertama. Apapun itu bagi kami penikmat film, film dengan genre tokoh Nasional ini bisa menjadi jembatan untuk lebih mengenal sosok sang Visioner. Semoga industri perfilm-an indonesia selalu bisa menampilkan tontonan yang berkualitas seperti dua film diatas, sehingga banyak pelajaran yang dapat diambil serta nilai-nilai kehidupan. Dan sekali lagi, selamat jalan untuk Bapak bangsa, B.J Habibie semoga semua jasamu pada bangsa ini tercatat sebagai amal baik dan mengantarkanmu ditempat teridahnya, Surga. Amiin.
Beliau adalah Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang biasa disapa B.J. Habibie. Beliau yang sepintas kita perkenalkan kepada anak-anak sebagai sosok genius, salah satu putra terbaik Indonesia yang kemampuanya diakui dunia, bagaimana tidak beliau diakui di kancah internasional sebagai seorang yang pandai dibidangnya. Beliau juga pernah membuat pesawat meski akhirnya tidak diproduksi lagi. Kiprahnya di panggung politikpun mulai diperhitungkan, ketika sang funding Father Presiden kedua RI bapak Soeharto menunjuk beliau sebagai penggantinya, menjadi Presiden ketiga Republik Indonesia. Diluar semua kontroversi mengenai kepemimpinan beliau yang sangat pendek yakni hanya 2 tahun, beliau tetap menjadi sosok yang dikagumi dan mulai diperhitungkan di Indonesia.
Di kalimat terakir saya katakan bahwa beliau mulai diperhitungkan, karena tipikal orang indonesia memang cenderung labil. Mereka yang ada dibalik layar dan tidak terekspos kepermukaan seringkali tidak diperhitungkan apalagi diidolakan. Begitupun Habibie yang kemudian “naik daun” dan mulai punya banyak penggemar selepas beliau menjadi Presiden. Banyak orang yang kemudian mencari tahu sisi kehidupanya, latar belakang pendidikan hingga prestasi apa saja yang pernah beliau torehkan semasa menempuh pendidikan dan pasca pendidikanya. Mereka yang memiliki hobi menulispun tak luput, berusaha menulis biografi seorang Habibie dan bahkan beberapa waktu yang lalupun kisah hidup beliau pernah diperankan menjadi sebuah film dimana animo masyarakat juga luar biasa.
Film yang diberi judul “ Habibie dan ainun” ini menjadi film terlaris dengan jumlah penonton mencapai 4,5 juta. Sungguh prestasi yang luar biasa untuk film tanah air bergenre roman. Meski film ini dominan mengisahkan tentang cinta Habibie pada ainun yang tak lekang oleh waktu dan hanya maut yang kemudian memisahkan mereka, film ini tidak membosankan seperti halnya film percintaan milenia hari ini. Kisah cinta ala 70-an yang tanpa banyak mengekspos kata-kata dengan pilihan diksi “rayuan” kemudian tidak ada juga dominasi kontak fisik yang banyak dipertontonkan sinetron hari ini. Semua serta natural sehingga penonton tetap bisa hanyut dalam kisah cinta yang dewasa.
Selain itu dalam film habibie dan ainun juga mengangkat kisah perjuangan habibie dalam dunia karirnya. Pergolakan seorang pemuda yang berjuang meniti karir dengan semua kesederhanaanya yang kemudian karyanya diakui dunia, namun karena cintanya pada tanah air membawanya kembali ke negerinya, yang saat itu belum bisa menghargainya selayaknya yang ditawarkan oleh negara lain. Jika bukan karena cintanya pada Indonesia, maka siapa yang akan rela meninggalkan semua kemewahan yang sudah didapatknya. Ia, semua memang karena cinta. Kesuksesan film ini kemudian ingin kembali diulang oleh hanung Bramantyo yang diangkat dari novel semi-biografi Rudy : kisah masa muda sang Visioner karya Gina S. Noer.
Film yang dirilis 30 juni 2016 ini menceritakan tentang kehidupan B.J. Habibie yang dalam film ini disapa Rudy yang merupakan nama panggilanya. Film ini berkisah tentang kehidupan habibie selama di jerman,tempat dimana ia menimba ilmu. Jika pada film sebelumnya kisah yang diangkat adalah kehidupan habibie dan karirnya hingga kemudian ia menjadi presiden, maka di film kedua ini aroma percintaan, kisah cinta segitiga habibie dengan wanita jerman yakni Ilona lebih mendominasi. Sebelum akhirnya berakhir dengan pernikahanya dengan Ainun. Jadi film kedua ini semacam flash back yang mengangkat sisi lain dari film yang pertama. Apapun itu bagi kami penikmat film, film dengan genre tokoh Nasional ini bisa menjadi jembatan untuk lebih mengenal sosok sang Visioner. Semoga industri perfilm-an indonesia selalu bisa menampilkan tontonan yang berkualitas seperti dua film diatas, sehingga banyak pelajaran yang dapat diambil serta nilai-nilai kehidupan. Dan sekali lagi, selamat jalan untuk Bapak bangsa, B.J Habibie semoga semua jasamu pada bangsa ini tercatat sebagai amal baik dan mengantarkanmu ditempat teridahnya, Surga. Amiin.
Komentar
Posting Komentar