Sebuah Titik Balik
Siang ini sambil menunggu jeda
pergantian jam untuk mengawas Ujian Tengah Semester, saya biasanya mengobrol
bersama kawan-kawan di ruang dosen. Namun siang ini rasanya letih dan lapar,
meskipun ini memang sedang berpuasa, tapi sepertinya kemarin dengan siang yang
sama namun tak selapar hari ini. Untuk sekedar menghilangkan penat saya
buka-buka internet, berselancar di youtube untuk mencari channel ya setidaknya
menghibur diri yang dirundung lapar. Ketika asyik scrooling tetiba sampai pada
sebuah channel yang judulnya “kaya tanpa harta”. Sepertinya saya sudah pernah
melihat cuplikan episode ini, tapi tak ada salahnya lah mengulang kembali
menonton kisah ini, biasanya saya tidak pernah suka mengulang atau memutar
kembali video yang sudah saya tonton. Saya bukan tipe orang yang sangat suka
pada satu tayangan sehingga suka juga memutarnya kembali. Jika saya sudah
mengetahui ceritanya itu sudah cukup bagi saya, tapi entahlah siang ini saya
ingin memutar kembali tayangan itu. Jadi cuplikan episode ini mengambil latar
disebuah lembaga penyalur sedekah di PP Darut Tauhid di Bandung yang kita kenal
adalah milik salah satu pemuka agama di Negeri ini. Diceritakan ada seorang
pemuda yang baru di PHK dan ditinggalkan oleh istri yang membawa serta anaknya.
Pemuda yang dalam keputus-asaanya melihat ramai orang keluar masuk ke lembaga
ini, maka dia berkesimpulan bahwa pastinya orang-orang yang datang itu adalah
orang yang punya banyak uang sehingga bisa bersedekah. Saat itu adalah hari
jumat di suatu siang dimana seluruh pegawai laki-lakinya sedang solat jumat dan
beberapa pegawai perempuan terlihat keluar dari kantor untuk istirahat siang.
Disana hanya menyisakan seorang teller yang bertugas menerima sedekah. Tanpa
berpikir panjang, pemuda tersebut masuk sembari memakai tudung jaketnya. Sampai
di dalam kantor, sang teller dengan lembut mengucapkan salam dan mengatakan
bahwa pelayanan tutup hingga solat jumat usai. Tanpa menjawab salam Pemuda itu
mengeluarkan sebuat belati dan menyodorkanya pada sang kasir dan meminta kasir tersebut
mengeluarkan uang yang ada dalam laci. Dengan menunduk dan ucapan yang
terbata-bata perempuan itu menyuruh sang pemuda beristigfar. Pemuda itu semakin
tersulut amarahnya dia membentak perempuan itu sambil gemetar ia mengatakan
bahwa dirinya juga orang yang membutuhkan karena ia baru saja di PHK dan
Istrinya meninggalkanya, dia terus mengacungkan belati ke perempuan itu dan
memintanya segera mengeluarkan uang dari lacinya. Dengan ketakukan perempuan
itupun menuruti kehendaknya, ia mengeluarkan sebuah amplop yang baru
diterimanya hari ini,sang pemuda melihat isi amplop itu dan ternyata uangnya
cukup banyak, lantas ia bertanya siapa orang yang bersedekah sebanyak itu,
orang kaya atau pejabat? Dengan masih ketakutan perempuan itu menjawab bahwa
uang yang dipegang oleh pemuda itu berasal dari seorang lelaki paruh baya yang
bekerja sebagai kuli panggul di pasar, dia hanya dibayar 5000 rupiah untuk
sekali panggul,lelaki itu hidup sendiri, meski berkesusahan lelaki itu tetap
menyisakan rizkinya untuk disedekahkan. Pemuda itu terheran sambil membentak
perempuan itu bertanya mengapa orang yang untuk dirinya saja masih kurang tapi
rela bersedekah, ia seakan tak percaya. Perempuan itu menjawab bahwa pertanyaan
yang sama ia lontarkan pada leleki pesedekah itu dan taukah anda jawabanya,
lelaki itu mengatakan bahwa uang yang ia sedekahkan itu hanya sedikit jika
dibandingkan kebahagiaan orang yang akan menerimanya nanti. Pemuda itu
melemparkan kembali amplop itu, ia tak mau menerimanya. Dia menyuruh wanita itu
mengeluarkan amplop lainya, kasir itu menurut ia mengeluarkan amplop kedua yang
ia terima dari seorang ibu tua yang bekerja sebagai tukang cuci dan harus
menghidupi anak semata wayangnya yang masih bersekolah disekolah dasar, sembari
menyerahkan uang sedekah, ibu itu meminta didoakan agar Allah memberikan nikmat
yang selalu bisa ia syukuri, dan menjadikanya orang yang selalu bisa bersyukur.
Lagi-lagi pemuda itu menolak amplop yang
disodorkan oleh kasir,dan sampailah pada uang sedekah ketiga yang berupa uang
receh dalam sebuah toples. Sambil menyeringai pemuda itu bertanya, siap
orangnya yang bersedekah dengan receh, bocah? Kasir itu mengangguk tanda
mengiyakan. Dia menceritakan bahwa pagi ini ia kedatangan seorang tamu kecil
yang membawa sebuah toples berisi uang koin yang ingin dia sedekahkan, gadis
kecil itu mengatakan bahwa itu uang ayahnya, ia minta agar didoakan supaya
ayahnya segera mendapat pekerjaan dan orang tuanya bisa bersatu kembali. Dan
ternyata gadis kecil ini adalah putri dari pemuda yang berniat merampok ini.
Seketika hatinya luluh,dia memberikan belati itu pada sang kasir. Ia sadar
bahwa masih banyak orang yang lebih tidak mampu daripada dirinya namun masih
memikirkan kebahagiaan orang lain lewat bersedekah. Ia merasa malu karena ujian
hidupnya masih terlalu ringan jika dibandingkan orang-orang yang diceritakan
tadi. Allah memang luar biasa, Maha membolak balikan hati hambanya. Semoga kita
senantiasa dalam RidhoNya.
Seperti halnya siang ini ketika
selesai melihat cuplikan tadi, saya sedikit merenung. Mungkin ini salah satu
cara Allah menggerakkan hati saya, menyentil saya bahwa betapa saya tak jauh
beda dengan pemuda yang berniat merampok tadi. Saya yang menerima banyak nikmat
dari Allah SWT namun tak pernah bersyukur atasnya, selalu ingin merampok milik
orang lain, saya yang selalu merasa orang paling tidak bahagia diantara ragam
kebahagiaan yang selalu ditunjukkan oleh kawan-kawan saya. Saya yang setiap
hari diberikan nikmat sehat namun selalu mengeluh untuk apa yang tidak saya
dapatkan dari setiap pinta yang saya mohonkan. Saya yang selalu menghitung
sedekah yang saya berikan dan berharap untuk kembalian yang berlipat, ah
sungguh betapa saya tidak bersyukur, betapa saya memberi dengan selalu berharap
kembalian, dan betapa sombongnya saya ketika mendapati sebuah pencapaian
seketika terbersit bahwa saya yang terbaik. Beberapa kali saya merasa Allah
begitu tega mengambil sedikit dari apa yang saya punya, tapi saya tak pernah
menyadari bahwa saya telah kehilangan yang paling beharga, Syukur. Saya yang baru saja melewati 7 hari di Ramadan tahun ini, dengan
tamaknya saya sudah merencanakan akan melewatkan Ramadhan tahun depan dengan
apa dan dimana, saya lupa bahwa yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Bisa saja ia datang dalam
beberapa detik kedepan, namun saya tidak pernah sibuk memikirkan kesiapan untuk
dijemput olehnya, saya sibuk memikirkan seperti apa orang lain akan mengingat
saya ketika saya telah sampai pada waktunya. Astagfirullahal Adziim.
Fufufu... Hrus sering ingat mti y ka
BalasHapusJadi sedih membacanya. yang bersedekah justru orang-orang yang kurang mampu.. hiks hiks
BalasHapusKematian adalah nasihat terbaik
BalasHapusKeren kk. Penuh philosopi. Tq kk
BalasHapusJadi pengingat juga untuk diriku huhu, tulisannya keren kk
BalasHapusTrenyuh sekali daku
BalasHapustrimakasih sudah mengingatkan kk
BalasHapus