Pramuka adalah pembangun kemandirian
Salam pramuka...salam....prok..prok..prok..prok..pro..prok...
Ada yang suka bertepuk tangan?atau ada yang suka berkemeha,menginap dibawah tenda? Dua hal ini memang yang paling identik dengan kegiatan pramuka. Bagi kaum 90-an seperti saya kegiatan pramuka pasti jadi primadona saat bersekolah,latihan pramuka yang hanya dijadwalkan seminggu sekali adalah momen yang paling ditunggu. Kegiatan pramuka yang identik dengan nyantian tepuk tangan, tali temali,semua hal yang intinya bersenang-senang untuk anak-anak.
Sebelum pada akhirnya posisi permainan tergantikan oleh game yang ada dalam gawai, permainan yang banyak diajarkan di kepramukaan selalu jd idola. Kegiatan kemah menjadi momen yang dinantikan,berkumpul bersama teman-teman,bercanda menghabiskan hari dengan penuh kegembiraan. Jika melihat kebelakang maka, bolehlah kita berbangga hati ketika kita menjadi orang yang beruntung,dapat bergumul langsung dengan alam,berbaur dengan masyarakat saling bahu membahu menyelesaikan persoalan dan berkreasi dengan benda yang ada disekitar kita.
Masih ingat betapa kegiatan kemah selalu dinanti. Dahulu kegiatan berkemah dilakukan benar-benar di alam,dimana sisi kemandirian benar-benar diuji. kreativitas para anggota pramuka pun di uji,harus benar2 melakukan segala sesuatu memanfaatkan sumber daya yang seadanya. Para pembina pramuka juga dengan penuh kesungguhan membangun semangat kepanduan bukan semangat berfoto bersama.
Ketika hari ini saya yang sudah menjadi orang tua,kian was-was melihat pergaulan anak hari ini. setiap waktu tak lepas dari gadgetnya,alih-alih supaya anak bisa diam saat diajak di tempat umum maka gadgetlah yang menjadi pilihan utama. Gadget memang jadi senjata paling ampuh menarik perhatian anak untuk tetap tenang dan terkondisikan. Namun,pernahkah kita menganalisis lebih jauh,bahwa kediaman anak-anak itu meninggalkan bekas yang tak baik,pasivitas,hanya jadi penonton yang asik hanya menonton tapi tak pernah mempraktekkan.
Mereka juga kurang memiliki aktivitas fisik yang pada akhirnya berkaotan juga dengan kesehatan. Kurang gerak membuat kemampuan fisik jadi melemah. Individualisme pun kian mengakar,mereka yang terbiasa memperhatikan gawai dan terlelap di dalamnya hingga punya dunianya sendiri, tak lagi peka pada kondisi sekitanya,lingkungan sosialnya. Jangankan untuk ikut andil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,untuk terlibat dalam pergaulan sosial kemasyarakatan pun tak lagi diminati.
Komentar
Posting Komentar