Sebuah Refleksi Pemilu dari Tataran Keluarga


Lingkungan keluarga merupakan komponen utama sebagai tempat menanamkan nilai dan norma pertama guna menciptakan generasi yang cerdas dan berwawasan luas. Nilai-nilai yang diajarkan orang tua ke anaknya bisa berupa nilai social, tingkah laku, berpendapat baik secara lisan maupun tulisan serta upaya memberikan kesadaran untuk mengikuti pemilu (pemilihan umum).
Pemilihan umum merupakan salah satu bentuk partisipasi politik sebagai perwujudan dan kedaulatan rakyat, karena pada saat pemilu itulah, rakyat menjadi pihak yang paling menentukan bagi proses politik disuatu wilayah dengan suara secara langsung. Setiap warga Negara yang telah memenuhi persyaratan wajib untuk mengikuti pemilu di Indonesia.
Keikutsertaan dalam aktivitas keluarga ialah bahwa meskipun tidak didukung oleh hukuman resmi yang biasanya mendukung banyak kewajiban lainya tetapi semua orang tetap mengambil bagian. Keluarga merupakan dasar pembantu utama struktur social yang lebih luas, dengan pengertian bahwa lembaga-lembaga lainya tergantung pada eksistensinya. Peran tingkah laku yang dipelajari didalam keluarga contoh atau prototype peran tingkah laku yang diperlukan pada segi-segi lainya dalam masyarakat.
Hasil penelitian setiajid (2011) tentang studi kasus pemilih pemula di kota Semarang menyatakan bahwa factor dominan yang mempengaruhi pemilih pemula menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan walikota semarang tahun 2010 adalah factor pilihan sendiri 40% kemudian factor  orang tuan 32%. Meski peran orang tua tidak terlalu besar dalam penentuan pilihan, namun angka 32% juga menunjukkan bahwa keluarga dalam hal ini orang tua dapat dijadikan contoh pemilih yang baik dengan memberikan hak pilihnya dalam momentum pesta demokrasi, dan tentunya menjadi salah satu upaya meningkatkan partisipasi pemilih utamanya adalah pemilih pemula.
Peran penting orang tua salah satunya adalah dalam sosialisasi politik, melalui sosialisasi politik individu-individu diharapkan mau dan mampu berpartisipasi serta bertanggungjawab dalam kehidupan politik. Sosialisasi politik banyak bentuknya. Menurut Maran (2007) mekanisme sosialisasi politik adalah, imitasi, instruksi dan motivasi. Merujuk pada pemaparan diatas, maka rencana kerja yang dapat dilakukan sebagai relawan demokrasi yang merupakan bagian dari pemilu adalah melalui sosialisasi politik dalam bentuk:
Sosialisasi dan penyuluhan dari lingkup kecil semisal dalam forum tahlilan yang ada disekup RT,
Sharing bareng guna meningkatkan partisipasi pemilih pemula melalui kegiatan yang ada di desa (forum PKK, dasawisma maupun karang taruna)
Menebarkan virus positif tentang pemilih cerdas yang berdaulat,melalui jejaring social maupun arisan yang ada dilingkungan sekitar.

Komentar

  1. Informasi tentang pemilu/demokrasi memang lebih ideal dimulai dari keluarga. Thanks for writing, Kak. Semangat!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang " nanti kita cerita tentang hari ini"

Discovering Ability

Bekal calon pendidik