Mengajar Itu Berbagi Hati


Mengajar Itu Berbagi Hati

Adakah yang saat ini berprofesi sebagai guru? Atau sedang kuliah di jurusan keguruan? Masih ada gak ya yang mau jadi guru? Mengingat gaji guru yang jauh dibawah kata layak jika bukan termasuk pegawai negeri sipil. Ah memang menjadi guru itu butuh kebesaran hati, keikhlasan yang tinggi. Bagi mereka yang masih menghitung untung rugi maka profesi guru pasti tak cocok dan nggak whort it. Bagaimana tidak, selain disibukkan dengan kompetensi profesional dimana guru harus menguasai bidang yang diajarkan maka mereka juga harus bisa sigap melengkapi administrasi yang semakin lama semakin banyak. Ohh bapak dan ibu guru sepertinya waktu 24 jam tak pernah cukup, perlu ada waktu tambahan untuk bisa mendapatkan gelar “profesional”.
Ah jadi guru mah yang penting bisa ngajar, nyampaikan materi, membuat perangkat toh semua bisa downlod, apalagi yang dikeluhkan? Pasti yang beranggapan demikian belum pernah ya merasakan jadi guru. Hehe…
Oke, mari kita ulas satu persatu. Menyampaikan materi soal mudah? Ah, mari kita cek lagi, benarkah demikian? Menyampaikan materi yang dalam hal ini diidentikkan dengan ceramah didepan kelas, yang pasti tidak mudah ya. Menyampaikan materi tidak sama dengan membaca buku, karena memberikan pemahaman kepada siswa itu diperlukan strategi, metode bahkan ragam media pembelajaran yang pembuatanya menguras tenaga dan pikiran. Tidak semua orang yang pandai dalam artian memiliki skor tinggi ketika bersekolah dulu belum tentu bisa mengajar, belum tentu bisa menguasai kelas dan belum tentu juga menguasai keterampilan dasar mengajar. Ada beberapa orang yang memahami sesuatu namun hanya untuk dirinya sendiri dan bukan untuk orang lain. Mengajar itu bukan proses transfer keilmuan seperti hanya anda bertransaksi, mengajar itu tentang sinergitas semua komponen didalamya seperti halnya tubuh untuk bisa menggerakkan satu bagian harus ada koordinasi semua bagian yang terlibat.
Mengajar itu tentang mensinkronkan antara keterampilan dasar mengajar, keterampilan mendengar yang terucap ataupun tidak, keterampilan melihat apa yang tampak ataupun kasat mata, keterampilan berbicara apa yang tertulis ataupun tidak. Semua kolaborasi panca indera dan keterampilan mengolah informasi kemudian menyuguhkanya menjadi informasi baru yang menjadi kontribusi pengetahuan bagi peserta didik. Semua kerumitan itu harus dihadapi guru disetiap harinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia itu,kita yang rasa!

MEMBACA TAK SEKEDAR MENGEJA KATA

Hidup itu hanya soal hati