Bahagia itu,kita yang rasa!
Setiap orang memiliki takdirnya masing-masing. kalian percaya nggak sih dengan yang demikian itu?semua itu nyata adanya ketika kita mau menelaah,mengevaluasi dan mengakuinya. kenapa ada pilihan kata mengakui didalamnya,karena memang tak jarang dari kita mengetahui namun tak lantas mau mengakuinya. apa sih yang dimaksud disini dengan memiliki takdir masing-masing? kalian boleh mengartikan sebagai jalan hidup yang berbeda untuk tiap orang.
Kadang kita menganggap hidup orang lain lebih bahagia dari kehidupan kita. Seperti pepatah yang bilang rumput tetangga selalu tampak lebih hijau dibanding rumput sendiri. Pepatah itu menggambarkan bahwa manusia senantiasa menggunakan orang lain sebagai indikator pengukuran kebahagiaan. ketika dirinya tertimpa masalah misalnya,ia akam melihat orang lain yang tak memiliki masalah yang sama dan menganggap dirinya sebagai orang yang paling tidak beruntung di dunia.
Ada yang menganggap dirinya begitu terluka saat sudah sampai di usia 30an namun tak kunjung menemukan orang yang tepat untuk dinikahi. Namun disisi lain ada orang yang sudah menikah,tapi merindukan kehidupan melajang agar leluasa kemana saja tanpa harus bertanggung jawab atas kehidupan orang lain. Ada yang mengutuk dirinya sendiri ketika dipastikan tak bisa memiliki keturunan,namun disisi lain ada yang dengan sengaja membuang anak kandungnya karena dianggap menyusahkan. Ada yang menganggap bahwa indikator kebahagiaan hanya terletak pada kekayaan, namun mereka yang bergelimang harta tak selalu bahagia dengan uang yang mereka hamburkan.
semua terlihat seperti kamuflase belaka. seperti oase di tengah gurun pasir yang ketika kamu mengejarnya sejatinya ia tak pernah ada. Kamu hanya akan kecewa ketika membumbungkan anganmu terlalu tinggi namun yang kamu harapkan tidak kamu dapatkan.Kekecewaan yang berlarut hanya akan membuatmu kian terpuruk. yakinlah semua yang kamu dapatkam adalah yang terbaik untukmu.
Mereka yang selalu mencurahkan isi hatinya pada orang lain,berkeluh kesah atas semua masalahnya kadang tak butuh solusi,tak mau mendengarkan saran,karena yang ia butuhkan cuma didengarkan atau mungkin dikasihani. Mereka yang selalu menceritakan persoalan hidupnya kadang mengesampingkan siapa orang yang diajak bercerita,bisa saja orang tersebut bersikap acuh,tak peduli atau bahkan menjadikan curhatan itu aebagai bahan pergunjingan di forum yang lain.
Ada juga yang bilang bahwa,mereka yang mengajakmu menggunjing,maka ketika kamu tak ada maka kamulah yang akan menjadi bahan pergunjingan. Jadi,cobalah untuk lebih selektif lagi jika hendak membicarakan hal yang sifatnya pribadi,atau lebih baik membicarakan hal lain yang ada hubunganya dengan pengetahuan,sehingga dapat menambah khazanah keilmuan kita. ada dua tipe orang yang mendengarkan curhatan kita,ia yang yak peduli dan ia yang menaruh kasihan pada kita. Keduanya tak dapat memberikan solusi paling baik,karena yang paling mengerti semua masalah kita tentu hanya kita sendiri dan Allah SWT,maka sebaik-baik tempat berkeluh kesah adalah mihrabmu.
Tulisan yang sangat menginspirasi sebagai bahan instrospeksi saya juga. Makasih yah kak...
BalasHapusPengingat untuk diriku terima kasih ya mba
BalasHapusTulisan keren, Mbak. Kita memang harus hati - hati dengan lisan kita..terima kasih
BalasHapusJaga hati jaga lisaaaaan
BalasHapusyasss,,,,, setuju banget dg paragraf terakhir....
BalasHapusKo rasa-rasanya sy jg pernah nulis mcem judul ini. Hihihi
BalasHapusMntep ka tulisan mu
Ayo bahagia :)
BalasHapusSetuju mbak, jangan asal curhat ke orang lain😊
BalasHapusSangat menginspirasi, keren, semangat kak
BalasHapusMantaaap...
BalasHapusJagalah hati.....
BalasHapusSetuju tempat keluh kesah yang baik adalah Allah
Self reminder nih. Sudah apik tulisannya mba. Dikasih diksi yang beragam lebih mantul lagi
BalasHapus