materi belajar pembelajaran
Modul
Teori belajar, prinsip – prinsip belajar dan media
pembelajaran
Kompetensi dasar dan Indikator
Kompetensi Dasar
Memahami berbagai teori
belajar dan prinsip pembelajaran
Indikator :
Mengidentifikasi
berbagai teori belajar dan prinsip pembelajaran yang sesuai dengan mata
pelajaran
Pengembangan media
pembelajaran
A.
Teori Belajar
Ada
beberapa teori belajar yang dikemukakan oleh Suyono dan Hariyanto (2011):
1. Teori disiplin Mental
Teori belajar ini berakar dari toeri pembelajaran
Plato dan Aristoteles, tapi merupakan rintisan lahirnya aliran behaviorisme.
Teori disiplin mental berpatokan pada kegiatan belajar sebagai pengembangan
dari kekuatan, kemampuan dan potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap
individu, melalui pelatihan dan pendisiplinan mental siswa.
a.
Aliran Psikologi
Daya
Aliran ini menyebutkan
bahwa individu mempunyai sejumlah daya, mengenal, mengingat, menanggapi,
menghayal, berpikir, merasakan berbuat, dan lain-lain yang dapat dikembangkan
melalui latihan-latihan dan
ulangan-ulangan.
b.
Aliran Herbatisme
Sebagai pelopor aliran
Herbatisme, seorang psikolog jerman bernama Herbart mengemukakan teori
Vorstellungen (makna tanggapan-tanggapan yang tersimpan dalam kesadaran).
Menurut teori ini belajar adalah mengusahakan adanya tanggapan-tanggapan sebanyak-banyaknya
dan sejelas-jelasnya pada kesadaran individu. Implementasi dari teori ini dapat
dilihat melalui pemilihan materi pelajaran yang sederhana, penting tetapi
menarik dan diberikan sesering mungkin; serta adanya apersepsi diawal
pembelajaran dan refleksi diakhir pembelajaran.
c.
Aliran
Naturalisme Romantik dari Jean Jacques Rousseau
JJ. Rousseau
menyebutkan bahwa anak-anak memiliki potensi-potensi yang terpendam sehingga
anak perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan
potensi-potensi tersebut.
2. Behaviorisme
Menurut teori belajar ini, belajar merupakan
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman melalui interaksi stimulus
(input) dan respon (output). Cirri-ciri aliran ini adalah: (1) mengutamakan
unsur-unsur/ bagian-bagian kecil, (2) bersifat mekanistis, (3) menekankan
peranan lingkungan, (4) mementingkan pembentukan respon, (5) menekankan
pentingnya latihan. Konsep belajar menurut aliran behaviorisme:
![]() |
![]() |
![]() |
|||||||
![]() |
![]() |
||||||||
B. Prinsip – Prinsip Belajar
Prinsip-prinsip belajar berikut
ini dekemukakan oleh para ahli bidang psikologi pendidikan (sagala, 2011) :
1.
Law
of effect yaitu bila berhubungan antara stimulus dengna respon terjadi dan
diikuti dalam keadan memuaskan, maka hubungan itu diperkuat.
2.
Spread
of effect yaitu, reaksi emosional yang mengiringi kepuasan itu tidak terbatas
kepada sumber utama pemberi kepuasan, tetapi kepuasan mendapat pengetahuan
baru.
3.
Law
of exercise yaitu hubungan antara perangsang dan reaksi diperkuat dengan
latihan dan penguasaan, sebaliknya hubungan itu melemahkan jika dipergunakan.
4.
Law
of readiness yaitu bila satuan-satuan dalam sistem syaraf telah siap berkonduksi, dan hubungan itu berlangsung,
maka terjadinya hubungan itu akan memuaskan.
5.
Law
of primacy yaitu hasil belajar yang diperoleh melalui kesan pertama akan sulit
digoyahkan.
6.
Law
of intensitu yaitu belajar memberi makna yang dalam apabila diupayakan melalui
kegiatan yang dinamis.
7.
Law
of recency yaitu bahan yang baru dipelajari akan lebih mudah diingat.
8.
Fenomena
kejenuhan
9.
Belongingness
yaitu keterikatan bahan yang dipelajari pada situasi belajar akan mempermudah
berubahnya tingkah laku.
C.
Media Pembelajaran
1.
Definisi
Media
Belajar
adalah suatu proses yang terjadi karena adanya interaksi seseorang dengan
lingkungan sepanjang hidupnya, dan sebagai hasil akhir ditandai dengan
terjadinya perubahan tingkah laku baik dalam hal pengetahuan, keterapilan
maupun sikapnya. Belajar dapat dilakukan secara terencana di sekolah dan di
lembaga-lembaga pendidikan lainya, maupun secara spontan diluar lembaga
pendidikan.
Dalam
proses pembelajaran, biasanya digunakan bantuan dari media pembelajaran
(seperti televise, radio, video, computer, internet,dll) sebagai alat bantu
ketercapaian tujuan pendidikan dan tujuan pembelajaran. Oleh karena itu,
menurut Oemar Hamalik (dalam Arsyad,2011),
guru harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang media
pembelajaran yang meliputi ;
a.
Media
sebagai alat komunikasi untuk mengefektifkan proses belajar mengajar.
b.
Fungsi
media dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran
c.
Seluk-beluk
proses belajar
d.
Hubungan
antara metode pengajaran dan media pembelajaran
e.
Manfaat
media pembelajaran dalam proses belajar mengajar
f.
Pemilihan
dan penggunaan media pendidikan
g.
Macam-macam
alat dan teknik media pembelajaran
h.
Media
pembelajaran yang dapat dipakai dalam setiap mata pelajaran.
i.
Inovasi
dalam media pendidikan.
Berikut ini merupakan beberapa
definisi media yang berhasil dihimpun azhar Arsyad (2011):
a.
Dalam
bahasa latin, media dari kata medius yang berarti tengah, perantara, atau
pengantar. Sedangkan dalam bahasa arab, media berarti perantara atau pengantar
pesan dari pengirim kepada penerima pesan.
b.
Gerlach
dan Eli (1971)
Media
secara garis besar meliputi manusia, materi, atau kejadian yang membangun
kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan dan
sikap. Sedangkan arti media secara khusus meliputi alat-alat grafis,
photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali
informasi visual atau verbal.
c.
AECT
(Association of Education and Communication Technology, 1977)
Media
merupakan segala bentuk dan saluran yang dipakai untuk menyampaikan pesan atau
informasi.
d.
Fleming
(1987)
Media
merupakan sistem penyampai atau pengantar; penyebab atau alat yang turut campur
dalam dua pihak dan mendamaikannya; mengatur hubungan yang efektif antar dua
pihak utama dalam proses belajr siswa dan isi pelajaran; system pembelajaran
yang melakukan peran mediasi mulai guru sampai peralatan yang paling canggih.
e.
Heinich,
dkk(1982)
Medium
merupakan perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima
f.
Hamidjojo
Media
adalah semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau
menyebarkan ide, gagasan, atau pendapat kepada penerima yang dituju.
g.
National
Education Association
Media
merupakan bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun Audio-visual dan
peralatanya yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, atau dibaca.
Berikut ini merupakan definisi
media pembelajaran dari beberapa ahli pendidikan (Arsyad, 2011) :
a. Heinich, dkk (1982)
Media
pembelajaran merupakan media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang
bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran.
b. Gagne dan Briggs (1975)
Media
pembelajaran merupakan alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan
materi pengajaran. Alat tersebut berupa buku, tape recorder, kaset, video
camera, video recorder, film, slide, foto, gambar, grafik, televasi dan
computer.
Media
pembelajaran seringkali pula disebut dengan istilah yang lain, seperti bahan
pengajaran (Instructional material), komunikasi pandang-dengar (audio-visual
communication), pendidikan alat peraga pandang (visual education), teknologi
pendidikan (educational technology), alat peraga, dan media penjelas. Oleh
karena itu sangat perlu rasanya untuk mengemukakan ciri-ciri umum tentang
media, yaitu :
a.
Media
pembelajaran memiliki pengertian fisik (hardware)
b.
Media
pembelajaran memiliki pengertian non-fisik (software)
c.
Penekanan
media pembelajaran terdapat pada visual dan audio.
d.
Media
pembelajaran memiliki pengertian alat bantu pada proses pembelajaran, baik
didalam maupun diluar kelas.
e.
media
pembelajaran digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa
dalam proses pembelajaran.
f.
Media
pembelajaran dapat digunakan secara masal, kelompok besar, kelompok kecil,
maupun perorangan.
g.
Media
pembelajaran meliputi sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manajemen
yang berhubungan dengan penerapan suatu ilmu.
Landasan penggunaan media, yaitu
;
a.
Levie
and Levie
Stimulus
visual membuahkan hasil yang lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat,
mengenali, mengingat kembali, dan menghubungkan fakta dan konsep, sebaliknya,
stimulus verbal memberi hasil yang lebih baik apabila pembelajaran melibatkan
ingatan yang berurutan (sekuensial).
b.
Bruner
(1966)
Ada 3
tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung (enactive), pengalaman
pictorial/gambar (iconic), dan pengalaman abstrak (symbolic).
PERLUNYA PARADIGMA BARU DALAM
PENDIDIKAN
Untuk membangun masyarakan terdidik,
masyarakat yang cerdas, maka mau tidak mau harus merubah paradigma dan system
pendidikan. Formalitas dan legalitas tetap saja menjadi sesuatu yang penting,
akan tetapi perlu diingat bahwa subtansi juga bukan sesuatu yang bisa diabaikan
hanya untuk mengajar tataran formal saja. Maka yang perlu dilakukan sekarang
bukanlah bukanlah menghapus formalitas yang telah berjalan, melainkan menata
kembali system yang ada dengan paradigma yang lebih baik. Dengan paradigma
baru, praktik pembelajaran akan digeser menjadi pembelajaran yang lebih
bertumpu pada teori kognitif dan konstruktivistik. Pembelajaran akan berfokus
pada pengembangan kemampuan intelektual yang berlangsung secara social dan
cultural, mendorong siswa membangun pemahaman pengetahuanya sendiri dalam
konteks social dan belajar dimulai dari pengetahuan awal dan perspektif budaya.
Tugas belajar didesain menantang dan menarik untuk mencapai derajat berpikir
tingkat tinggi (Kamdi :2008).
Kelemahan terbesar dari
lembaga-lembaga pendidikan dan pembelajaran kita menurut purwasasmita
(2002:132) karena pendidikan tidak mempunyai basis budaya yang jelas. Lembaga
pendidikan kita hanya dikembangkan berdasarkan model ekonomik untuk
menghasilkan/membudaya manusia pekerja yang sudah disetel menurut tata nilai
ekonomi yang berlatar (kapitalistik), sehingga tidak mengherankan bila keluaran
pendidikan kita menjadi manusia pencari kerja dan tidak berdaya, bukan manusia
kreatif pencipta keterkaitan kesejahtraaan dalam siklus rangkaian manfaat yang
sehharusnya menjadi hal paling esensial dalam pendidikan dan pembelajaran.
Pemikiran-pemikiran yang positif
memberikan arahan bahwa sudah selayaknya jika dunia pendidikan diarahkan pada
upaya transformasi dan pengembangan prinsip-prinsip secara komprehensip dalam
penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran. Kepada para peserta didik perlu
diberi bekal pengetahuan serta nilai-nilai dasar sebagai suatu pandangan hidup
yang sangat berguna untuk mengarungi kehidupan dalam masyarakat pluralis, baik
dari aspek etnisitas, cultural, maupun agama. Jika dunia pendidikan berhasil
melaksanakan tugas ini, maka pada gilirannya masyarakat kita dimasa depan makin
lama akan berkembang menjadi masyarakat yang gagal, maka kita tidak bisa
berharap generasi di masa depan akan mampu menampilkan sosok bangsa yang cerdas
serta mampu menjunjung nilai-nilai luhur budayanya.
Dalam proses pembelajaran misalnya,
pengembangan suasana kesetaraan melalui komunikasi dialogis yang transparan,
toleran, dan tidak arogan seharusnya terwujud di dalam aktivitas pembelajaran.
Suasana yang member kesempatan luas bagi setiap peserta didik untuk berdialog
dan mempertanyakan berbagai hal yang berkaitan dengna pengembangan diri dan
potensinya. Hal ini menjadi sangat penting karena para pendidika juga adalah
pemimpin yang harus mengakomodasi berbagai pertanyaan dan kebutuhan peserta
didik secara transparan, toleran, dan tidak arogan, dengan membuka
seluas-luasnya kesempatan-kesempatan dialog kepada peserta didik (Parkey:
1996). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemimpin yang mampu menumbuhkan
suasana dialogis, kesetaraan, dan tidak arogan ataunondefensif serta selalu
berupaya mendorong sikap positif, akan dapat mendorong terjadinya keefektifan
proses pembelajaran (Goldsmith: 1996:236). Para pendidik maupun peserta didik,
sesuai dengan kapasitasnya, harus berusaha untuk mampu saling menghargai, menghormati
pendapat atau pandangan orang lain. Karena itu suasana pendidikan harus
diciptakan dalam rangka mengembangkan dialog-dialog kreatif dimana setiap
peserta didik diberi kesempatan yang sama untuk diskusi, berdebat, mengajukan
dan merespon berbagai persoalan yang muncul dalam setiap kegiatan pembelajaran.
Yang terpenting adalah bahwa setiap orang diberi kesempatan untuk menjadi
sebijakasana mungkin menurut kemampuanya masing-masing. Suasana kesetaraan
perlu dikembangkan dengan berorientasi pada upaya mendorong peserta didik agar
mampu menyelesaikan berbagai perbedaan yang ada diantara sesame secara harmonis
dan rasional.
Pendidikan harus memiliki
keseimbangan dalam perannya membangun peserta didik sebagai warga dunia, warga
bangsa dan warga masyarakat. Dengan demikian, secar filosofis arah pendidikan
harus menyeimbangkan antara perkembangan dlobal disatu sisi dan akar budaya
dalam konteks local di sisi yang lain. Demikian pula arah pendidikan harus
menyeimbangkan antara hal-hal yang akan berdimensi masa depan dengan hal-hal
yang dimensi masakini. Secara substansi, arah pendidikan harus membekali
peserta didik dengnakompetensi yang bersifat subject matter dan kompetensi
lintas kurikulum yang diperlukan. Kompetnsi subject matter berkaitan dengan
mata pelajaran yang harus benar-benar dipilih oleh satuan pendidikan sebagai
dasar peserta didik untuk memamhami dan mengembangkan kompetensi dirinya.
Kompetensi lintas kurikulum adalah kompetensi –kompetensi yagn dihutuhkan
peserta didik sebagai individu, yang baik secara implicit maupun eksplisit
terkait dengan berbagai mata pelajaran. Kemampuan memecahkan masalah,
komunikasi, hubngan social dan interpersonal, kemmandirian, etika dan estetika.
Kompetensi-kompetensi lintas kurikulum tersebut tidak dapat dipelajarai secara
spesefik memalui mata pelajaran, tetatpi merupakan kemampuan yang diperoleh
secaraholistik dan integrative anta rata pelajaran. Dalam kehidupan yang
semakin kompleks seringkali kompetensi lintas kurikulum merupakan instrument
yang sangat penting untuk dapat bertahan hidup.
Secara pedagogis arah pendidikan
terkait dengan pengembangan pendekatan dan metodologi proses pendidikan dan
pembelajaran yang memanfaatkanberbagai sumber belajar. Kehadiran tenologi
informasi dan komunikasi dalam kehidupan telah mengubah paradigma pendidikan
yang menempatkan guru sebagi fasilitator dan agen pembelajran di mana peserta
didik dapat memiliki akses yang seluas-luasnya kepada beragam media untuk
kepentingan pendidikanya.
PEMBELAJARAN SEBAGAI PROSES
PEMBERDAYAAN
Pandangan yang sudah berlangsung lama
yang menempatkan pembelajaran sebagai proses transfer informasi atau transfer
of knowledge dan guru kepada siswa semakin banyak mendapat kritikan. Penempatan
guru sebagai satu-satunya sumber informasi menempatkan siswa atau peserta didik
tidak sebagai individu yang dinamis, akan tetapi lebih sebagai obyek yang pasif
sehingga potensi¬-potensi keindividualannya tidak dapat berkembang secara
optimal. Ketidaktepatan pandangaan ini juga semakin terasa jika dikaji dan
pesatnya perkembangan arus informasi dan media komunikasi yang sangat
memungkinkan siswa secara aktif mengakses berbagai informasi yang mereka
butuhkan. Dalam keadaan ini guru hendaknya dapat memberikan dorongan dan arahan
kepada siswa utuk mencari berbagai sumber yang dapat membantu peningkatan
pengetahuan dan pemahaman mereka tentang aspek-aspek yang dipelajari. Karena
sesuai dengan UUD 1945, pendidikan seharusnya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Hal ini berarti pendidikan adalah usaha untuk memberdayakan manusia. Manusia
yang berdaya adalah manusia yang dapat berpikir kreatif, yang mandiri, dan yang
dapat membangun dirinya dan masyarakatnya (Tilaar, 2000: 21).
Di samping persoalan-persoalan khusus pembelajaran di kelas, dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, setiap individu selalu dihadapkan pada berbagai persoalan. Seorang siswa atau mahasiswa menghadapi masalah kehidupan berkaitan dengan aktivitas atau tugas-tugas belajarnya. Kelak, bilamana dia telah menjadi pekerja (karyawan), ia juga akan berhadapan dengan berbagai masalah berkaitan dengan pekerjaannya. Tidak hanya itu saja, bahkan hampir setiap orang seringkali memiliki masalah dengan kepribadiannya sendiri. Sebut saja contoh yang sering kita dengar atau bahkan pernah kita ucapkan, misalnya seseorang yang mengatakan; saya tidak memiliki semangat, saya seringkali merasa malas, saya merasa kurang percaya diri, saya merasa sulit untuk menyesuaikan diri, saya yakin saya tidak mampu dan tidak kuat melakukannya, saya tidak yakin saya akan sukses, dan sebagainya.
Timbangan suatu masalah, seringkali tidak terletak pada eksistensi masalah yang dihadapi, akan tetapi lebih banyak terletak pada persepsi seseorang tentang masalah tersebut. Sebagai contoh, ada seorang karyawan (berinisial A) yang bekerja pada salah satu perusahaan. Dalam waktu yang sudah cukup lama dia merasakan beban yang berat berkenaan dengan tugasnya, lantaran pimpinannya kurang ramah sehingga ia merasa suasana kerja sangat tidak enak. Hal tersebut membuat dirinya merasa tidak betah lagi dan merasakan beban psikologis yang semakin berat. Karyawan lain (berinisial B) yang kebetulan sama dengannya juga berada di bawah seorang pimpinan yang sama, dan diperlakukan sama dengan dirinya. Akan tetapi karyawan ini tidak melihat masalah tersebut sebagai masalah besar, apalagi sebagai beban. Bagi dirinya yang terpenting bekerja dengan baik, dan berusaha mencapai hasil terbaik sesuai kemampuannya. Ilustrasi lain, misalnya terjadi pada dua orang guru yang sama-sama mengajar di sekolah dasar. Seorang guru bernama X merasa sangat berat bebannya menghadapi keragaman prilaku anak-anak sehari-hari. Dia bahkan seringkali tidak bisa tidur nyenyak karena beban yang dia alami telah merubah keceriaan dirinya menjadi pemurung dan bahkan stres. Guru yang lain bernama Y, juga mengajar di sekolah dasar, dan pada prinsipnya menghadapi masalah yang relatif sama dengan guru X. Namun dia menganggap hal-hal seperti itu sebagai sesuatu yang lumrah, dan bahkan dianggapnya sebagai dinamika yang harus ia hadapi.
Ilustrasi yang dikemukakan di atas penting untuk membiasakan siswa agar mampu mengenal dan menyikapi suatu masalah. Dengan pengenalan masalah ini siswa harus dilatih untuk mampu menempatkan posisi diri dan ketika menghadapi suatu masalah. Apakah kepribadian kita lebih identik dengan seorang, karyawan berinisial "A" seperti juga seorang guru bernama "X", atau lebih indentik dengan seorang karyawan berinisial "B" seperti juga seorang guru bernama "Y". Atau mungkin juga tidak indentik dengan kedua-keduanya. Hal itu sesungguhnya sangat erat dengan kepribadian diri sendiri yang seharusnya dapat dipahami dalam rangka mengenal dan memahami kekuatan dan kelemahan diri. Guru memiliki peran penting dalam hal ini, karena keberadaan guru tidak terbatas mengajar bidang studi tetapi memfasilitasi berkembangnya potensi-potensi siswa secara menyeluruh, termasuk mendorong mereka agar mampu memberdayakan dirinya dalam menghadapi berbagai masalah seperti dikemukakan di atas. Parkey dalam salah satu bagian tulisannya membahas peran guru sebagai pemimpin pendidikan. Dalam tugas ini guru memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan kepemimpinan di dalam diri siswa, terutama dalan menumbuhkan rasa percaya diri, kemampuan mengatasi masalah dan membangun sinergisitas dengan individu dan kelompok-kelompol lain (Parkay, 1998).
Dalam proses pembelajaran, pengenalan terhadap diri sendii atau kepribadian diri merupakan hal yang sangat penting dalan upaya-upaya pemberdayaan diri (self empowering). Pengenalan terhadap diri sendiri berarti pula kita mengenal kelebihan-kelebiha atau kekuatan yang kita miliki untuk mencapai hasil belajar yang kita harapkan. Pada sisi lain juga berarti kita mengenal kelemahan kelemahan pada diri kita sendiri sehingga kita dapat berupaya mencapai cara-cara yang konstruktif untuk mengatasi kelemahan-kelemaha tersebut. Jika kelemahan-kelemahan pribadi diri tidak kita pahami dengan baik, maka akan berpotensi membawa kita pada ketidakberhasilan.
Dalam sebuah buku yang berjudul “The seven Habits of Effective People”, 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif yang ditulis oleh Steven R. Covey, diketengahkan teori "Proses Kematangan Berkelanjutan" (Continum Maturity Process). Berdasarkan teori tersebut, manusia berkembang dari "tahap ketergantungan" (dependence) ke "tahap kemandirian (independence) sampai mencapai tahap "kesalingtergantungan" (interdependence). Menurut teori ini pula pada masa usia dini (bayi, balita), individu sangat tergantung pada bantuan orang lain atau "tidak berdaya", dan menginjak usia lebih tua (usia sekolah, remaja) dapat melakukan sendiri "mandiri", dan menginjak usia dewasa, tidak hanya sendiri melainkan dapat membantu orang lain, atau sebaliknya "saling tergantung". Dalam perjalanan hidup individu dari usia dini ke masa remaja, dewasa sampai tua, terjadi proses kematangan yang berkesinambungan (Covey, 1994: 38).
Di samping persoalan-persoalan khusus pembelajaran di kelas, dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, setiap individu selalu dihadapkan pada berbagai persoalan. Seorang siswa atau mahasiswa menghadapi masalah kehidupan berkaitan dengan aktivitas atau tugas-tugas belajarnya. Kelak, bilamana dia telah menjadi pekerja (karyawan), ia juga akan berhadapan dengan berbagai masalah berkaitan dengan pekerjaannya. Tidak hanya itu saja, bahkan hampir setiap orang seringkali memiliki masalah dengan kepribadiannya sendiri. Sebut saja contoh yang sering kita dengar atau bahkan pernah kita ucapkan, misalnya seseorang yang mengatakan; saya tidak memiliki semangat, saya seringkali merasa malas, saya merasa kurang percaya diri, saya merasa sulit untuk menyesuaikan diri, saya yakin saya tidak mampu dan tidak kuat melakukannya, saya tidak yakin saya akan sukses, dan sebagainya.
Timbangan suatu masalah, seringkali tidak terletak pada eksistensi masalah yang dihadapi, akan tetapi lebih banyak terletak pada persepsi seseorang tentang masalah tersebut. Sebagai contoh, ada seorang karyawan (berinisial A) yang bekerja pada salah satu perusahaan. Dalam waktu yang sudah cukup lama dia merasakan beban yang berat berkenaan dengan tugasnya, lantaran pimpinannya kurang ramah sehingga ia merasa suasana kerja sangat tidak enak. Hal tersebut membuat dirinya merasa tidak betah lagi dan merasakan beban psikologis yang semakin berat. Karyawan lain (berinisial B) yang kebetulan sama dengannya juga berada di bawah seorang pimpinan yang sama, dan diperlakukan sama dengan dirinya. Akan tetapi karyawan ini tidak melihat masalah tersebut sebagai masalah besar, apalagi sebagai beban. Bagi dirinya yang terpenting bekerja dengan baik, dan berusaha mencapai hasil terbaik sesuai kemampuannya. Ilustrasi lain, misalnya terjadi pada dua orang guru yang sama-sama mengajar di sekolah dasar. Seorang guru bernama X merasa sangat berat bebannya menghadapi keragaman prilaku anak-anak sehari-hari. Dia bahkan seringkali tidak bisa tidur nyenyak karena beban yang dia alami telah merubah keceriaan dirinya menjadi pemurung dan bahkan stres. Guru yang lain bernama Y, juga mengajar di sekolah dasar, dan pada prinsipnya menghadapi masalah yang relatif sama dengan guru X. Namun dia menganggap hal-hal seperti itu sebagai sesuatu yang lumrah, dan bahkan dianggapnya sebagai dinamika yang harus ia hadapi.
Ilustrasi yang dikemukakan di atas penting untuk membiasakan siswa agar mampu mengenal dan menyikapi suatu masalah. Dengan pengenalan masalah ini siswa harus dilatih untuk mampu menempatkan posisi diri dan ketika menghadapi suatu masalah. Apakah kepribadian kita lebih identik dengan seorang, karyawan berinisial "A" seperti juga seorang guru bernama "X", atau lebih indentik dengan seorang karyawan berinisial "B" seperti juga seorang guru bernama "Y". Atau mungkin juga tidak indentik dengan kedua-keduanya. Hal itu sesungguhnya sangat erat dengan kepribadian diri sendiri yang seharusnya dapat dipahami dalam rangka mengenal dan memahami kekuatan dan kelemahan diri. Guru memiliki peran penting dalam hal ini, karena keberadaan guru tidak terbatas mengajar bidang studi tetapi memfasilitasi berkembangnya potensi-potensi siswa secara menyeluruh, termasuk mendorong mereka agar mampu memberdayakan dirinya dalam menghadapi berbagai masalah seperti dikemukakan di atas. Parkey dalam salah satu bagian tulisannya membahas peran guru sebagai pemimpin pendidikan. Dalam tugas ini guru memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan kepemimpinan di dalam diri siswa, terutama dalan menumbuhkan rasa percaya diri, kemampuan mengatasi masalah dan membangun sinergisitas dengan individu dan kelompok-kelompol lain (Parkay, 1998).
Dalam proses pembelajaran, pengenalan terhadap diri sendii atau kepribadian diri merupakan hal yang sangat penting dalan upaya-upaya pemberdayaan diri (self empowering). Pengenalan terhadap diri sendiri berarti pula kita mengenal kelebihan-kelebiha atau kekuatan yang kita miliki untuk mencapai hasil belajar yang kita harapkan. Pada sisi lain juga berarti kita mengenal kelemahan kelemahan pada diri kita sendiri sehingga kita dapat berupaya mencapai cara-cara yang konstruktif untuk mengatasi kelemahan-kelemaha tersebut. Jika kelemahan-kelemahan pribadi diri tidak kita pahami dengan baik, maka akan berpotensi membawa kita pada ketidakberhasilan.
Dalam sebuah buku yang berjudul “The seven Habits of Effective People”, 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif yang ditulis oleh Steven R. Covey, diketengahkan teori "Proses Kematangan Berkelanjutan" (Continum Maturity Process). Berdasarkan teori tersebut, manusia berkembang dari "tahap ketergantungan" (dependence) ke "tahap kemandirian (independence) sampai mencapai tahap "kesalingtergantungan" (interdependence). Menurut teori ini pula pada masa usia dini (bayi, balita), individu sangat tergantung pada bantuan orang lain atau "tidak berdaya", dan menginjak usia lebih tua (usia sekolah, remaja) dapat melakukan sendiri "mandiri", dan menginjak usia dewasa, tidak hanya sendiri melainkan dapat membantu orang lain, atau sebaliknya "saling tergantung". Dalam perjalanan hidup individu dari usia dini ke masa remaja, dewasa sampai tua, terjadi proses kematangan yang berkesinambungan (Covey, 1994: 38).
Paradigma Konstruktivisme dalam
Pembelajaran
1.
Memahami
Paradigma Konstruktivisme
Konstruktivisme
merupakan respons terhadap berkembangnya harapan-harapan baru berkaitan dengan
proses pembelajaran yang menginginkan peran aktif siswa dalam merekayasa dan
memprakarsa kegiatan belajarnya sendiri. Hampir semua kalangan yang terlibat
didalam mengkaji masalah-masalah pembelajaran mengetahui bahwa konstruktivisme
merupakan paradigma alternative pembelajaran mengetahui bahwa konstruktivisme
pengetahuan kita adalah konstruksi (Von Glasersfeld dalam Bettencourt, 1989 dan
Matthews, 1994). Von Glasefeld mengemukakan bahwa pengetahuan bukanlah suatu
tiruan dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang. Melalui proses
belajar yang dilakukan, seseorang membentuk skema, kategori, konsep dan
struktur pengetahuan yang pengetahuan bukanlah tentang dunia yang lepas dari
pengamat, akan tetapi merupakan hasil konstruksi pengalaman manusia sejauh yang
dialaminya. Menurut Piaget (1971), pembentukan ini tidak pernah mencapai titik
akhir, akan tetapi terus menerus berkembang setiap kali mengadakan reorganisasi
karena adanya suatu pemahaman yang baru.
Dalam mencermati realitas kehidupan
sehari-hari, para konstruktivis mempercayai bahwa pengetahuan itu dalam diri
seseorang yang sedang berusaha megetahui.
DAFTAR PUSTAKA
Azhar
Arsyad, 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Suyono
dan Hariyanto, 2011. Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Syaiful
Sagala. 2011. Konsep dan Makna Pembelajaran: Untuk Membantu Memecahkan
Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: CV Alfabeta.
Komentar
Posting Komentar