materi belajar pembelajaran

Modul
Teori belajar, prinsip – prinsip belajar dan media pembelajaran



Kompetensi dasar dan Indikator
Kompetensi Dasar
Memahami berbagai teori belajar dan prinsip pembelajaran
Indikator :
Mengidentifikasi berbagai teori belajar dan prinsip pembelajaran yang sesuai dengan mata pelajaran
Pengembangan media pembelajaran



A.    Teori Belajar
Ada beberapa teori belajar yang dikemukakan oleh Suyono dan Hariyanto (2011):
1.      Teori disiplin Mental
Teori belajar ini berakar dari toeri pembelajaran Plato dan Aristoteles, tapi merupakan rintisan lahirnya aliran behaviorisme. Teori disiplin mental berpatokan pada kegiatan belajar sebagai pengembangan dari kekuatan, kemampuan dan potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap individu, melalui pelatihan dan pendisiplinan mental siswa.
a.       Aliran Psikologi Daya
Aliran ini menyebutkan bahwa individu mempunyai sejumlah daya, mengenal, mengingat, menanggapi, menghayal, berpikir, merasakan berbuat, dan lain-lain yang dapat dikembangkan melalui  latihan-latihan dan ulangan-ulangan.
b.      Aliran Herbatisme
Sebagai pelopor aliran Herbatisme, seorang psikolog jerman bernama Herbart mengemukakan teori Vorstellungen (makna tanggapan-tanggapan yang tersimpan dalam kesadaran). Menurut teori ini belajar adalah mengusahakan adanya tanggapan-tanggapan sebanyak-banyaknya dan sejelas-jelasnya pada kesadaran individu. Implementasi dari teori ini dapat dilihat melalui pemilihan materi pelajaran yang sederhana, penting tetapi menarik dan diberikan sesering mungkin; serta adanya apersepsi diawal pembelajaran dan refleksi diakhir pembelajaran.
c.       Aliran Naturalisme Romantik dari Jean Jacques Rousseau
JJ. Rousseau menyebutkan bahwa anak-anak memiliki potensi-potensi yang terpendam sehingga anak perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi-potensi tersebut.
2.      Behaviorisme
Menurut teori belajar ini, belajar merupakan perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman melalui interaksi stimulus (input) dan respon (output). Cirri-ciri aliran ini adalah: (1) mengutamakan unsur-unsur/ bagian-bagian kecil, (2) bersifat mekanistis, (3) menekankan peranan lingkungan, (4) mementingkan pembentukan respon, (5) menekankan pentingnya latihan. Konsep belajar menurut aliran behaviorisme:
Text Box:  (pre-learning) Text Box: Learning experience Text Box: Post Learning
 






B.     Prinsip – Prinsip Belajar
Prinsip-prinsip belajar berikut ini dekemukakan oleh para ahli bidang psikologi pendidikan (sagala, 2011) :
1.      Law of effect yaitu bila berhubungan antara stimulus dengna respon terjadi dan diikuti dalam keadan memuaskan, maka hubungan itu diperkuat.
2.      Spread of effect yaitu, reaksi emosional yang mengiringi kepuasan itu tidak terbatas kepada sumber utama pemberi kepuasan, tetapi kepuasan mendapat pengetahuan baru.
3.      Law of exercise yaitu hubungan antara perangsang dan reaksi diperkuat dengan latihan dan penguasaan, sebaliknya hubungan itu melemahkan jika dipergunakan.
4.      Law of readiness yaitu bila satuan-satuan dalam sistem syaraf  telah siap berkonduksi, dan hubungan itu berlangsung, maka terjadinya hubungan itu akan memuaskan.
5.      Law of primacy yaitu hasil belajar yang diperoleh melalui kesan pertama akan sulit digoyahkan.
6.      Law of intensitu yaitu belajar memberi makna yang dalam apabila diupayakan melalui kegiatan yang dinamis.
7.      Law of recency yaitu bahan yang baru dipelajari akan lebih mudah diingat.
8.      Fenomena kejenuhan
9.      Belongingness yaitu keterikatan bahan yang dipelajari pada situasi belajar akan mempermudah berubahnya tingkah laku.



C.           Media Pembelajaran
1.      Definisi Media
Belajar adalah suatu proses yang terjadi karena adanya interaksi seseorang dengan lingkungan sepanjang hidupnya, dan sebagai hasil akhir ditandai dengan terjadinya perubahan tingkah laku baik dalam hal pengetahuan, keterapilan maupun sikapnya. Belajar dapat dilakukan secara terencana di sekolah dan di lembaga-lembaga pendidikan lainya, maupun secara spontan diluar lembaga pendidikan.

Dalam proses pembelajaran, biasanya digunakan bantuan dari media pembelajaran (seperti televise, radio, video, computer, internet,dll) sebagai alat bantu ketercapaian tujuan pendidikan dan tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, menurut Oemar Hamalik (dalam Arsyad,2011),  guru harus mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang media pembelajaran yang meliputi ;
a.       Media sebagai alat komunikasi untuk mengefektifkan proses belajar mengajar.
b.      Fungsi media dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran
c.       Seluk-beluk proses belajar
d.      Hubungan antara metode pengajaran dan media pembelajaran
e.       Manfaat media pembelajaran dalam proses belajar mengajar
f.       Pemilihan dan penggunaan media pendidikan
g.       Macam-macam alat dan teknik  media pembelajaran
h.      Media pembelajaran yang dapat dipakai dalam setiap mata pelajaran.
i.        Inovasi dalam media pendidikan.

Berikut ini merupakan beberapa definisi media yang berhasil dihimpun azhar Arsyad (2011):
a.       Dalam bahasa latin, media dari kata medius yang berarti tengah, perantara, atau pengantar. Sedangkan dalam bahasa arab, media berarti perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.
b.      Gerlach dan Eli (1971)
Media secara garis besar meliputi manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Sedangkan arti media secara khusus meliputi alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
c.       AECT (Association of Education and Communication Technology, 1977)
Media merupakan segala bentuk dan saluran yang dipakai untuk menyampaikan pesan atau informasi.
d.      Fleming (1987)
Media merupakan sistem penyampai atau pengantar; penyebab atau alat yang turut campur dalam dua pihak dan mendamaikannya; mengatur hubungan yang efektif antar dua pihak utama dalam proses belajr siswa dan isi pelajaran; system pembelajaran yang melakukan peran mediasi mulai guru sampai peralatan yang paling canggih.
e.       Heinich, dkk(1982)
Medium merupakan perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima
f.       Hamidjojo
Media adalah semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebarkan ide, gagasan, atau pendapat kepada penerima yang dituju.
g.       National Education Association
Media merupakan bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun Audio-visual dan peralatanya yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, atau dibaca.

Berikut ini merupakan definisi media pembelajaran dari beberapa ahli pendidikan (Arsyad, 2011) :
a.       Heinich, dkk (1982)
Media pembelajaran merupakan media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran.
b.      Gagne dan Briggs (1975)
Media pembelajaran merupakan alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan materi pengajaran. Alat tersebut berupa buku, tape recorder, kaset, video camera, video recorder, film, slide, foto, gambar, grafik, televasi dan computer.

Media pembelajaran seringkali pula disebut dengan istilah yang lain, seperti bahan pengajaran (Instructional material), komunikasi pandang-dengar (audio-visual communication), pendidikan alat peraga pandang (visual education), teknologi pendidikan (educational technology), alat peraga, dan media penjelas. Oleh karena itu sangat perlu rasanya untuk mengemukakan ciri-ciri umum tentang media, yaitu :
a.       Media pembelajaran memiliki pengertian fisik (hardware)
b.      Media pembelajaran memiliki pengertian non-fisik (software)
c.       Penekanan media pembelajaran terdapat pada visual dan audio.
d.      Media pembelajaran memiliki pengertian alat bantu pada proses pembelajaran, baik didalam maupun diluar kelas.
e.       media pembelajaran digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
f.       Media pembelajaran dapat digunakan secara masal, kelompok besar, kelompok kecil, maupun perorangan.
g.       Media pembelajaran meliputi sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manajemen yang berhubungan dengan penerapan suatu ilmu.
Landasan penggunaan media, yaitu ;
a.       Levie and Levie
Stimulus visual membuahkan hasil yang lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan menghubungkan fakta dan konsep, sebaliknya, stimulus verbal memberi hasil yang lebih baik apabila pembelajaran melibatkan ingatan yang berurutan (sekuensial).
b.      Bruner (1966)
Ada 3 tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung (enactive), pengalaman pictorial/gambar (iconic), dan pengalaman abstrak (symbolic).



PERLUNYA PARADIGMA BARU DALAM PENDIDIKAN
            Untuk membangun masyarakan terdidik, masyarakat yang cerdas, maka mau tidak mau harus merubah paradigma dan system pendidikan. Formalitas dan legalitas tetap saja menjadi sesuatu yang penting, akan tetapi perlu diingat bahwa subtansi juga bukan sesuatu yang bisa diabaikan hanya untuk mengajar tataran formal saja. Maka yang perlu dilakukan sekarang bukanlah bukanlah menghapus formalitas yang telah berjalan, melainkan menata kembali system yang ada dengan paradigma yang lebih baik. Dengan paradigma baru, praktik pembelajaran akan digeser menjadi pembelajaran yang lebih bertumpu pada teori kognitif dan konstruktivistik. Pembelajaran akan berfokus pada pengembangan kemampuan intelektual yang berlangsung secara social dan cultural, mendorong siswa membangun pemahaman pengetahuanya sendiri dalam konteks social dan belajar dimulai dari pengetahuan awal dan perspektif budaya. Tugas belajar didesain menantang dan menarik untuk mencapai derajat berpikir tingkat tinggi (Kamdi :2008).
            Kelemahan terbesar dari lembaga-lembaga pendidikan dan pembelajaran kita menurut purwasasmita (2002:132) karena pendidikan tidak mempunyai basis budaya yang jelas. Lembaga pendidikan kita hanya dikembangkan berdasarkan model ekonomik untuk menghasilkan/membudaya manusia pekerja yang sudah disetel menurut tata nilai ekonomi yang berlatar (kapitalistik), sehingga tidak mengherankan bila keluaran pendidikan kita menjadi manusia pencari kerja dan tidak berdaya, bukan manusia kreatif pencipta keterkaitan kesejahtraaan dalam siklus rangkaian manfaat yang sehharusnya menjadi hal paling esensial dalam pendidikan dan pembelajaran.
            Pemikiran-pemikiran yang positif memberikan arahan bahwa sudah selayaknya jika dunia pendidikan diarahkan pada upaya transformasi dan pengembangan prinsip-prinsip secara komprehensip dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran. Kepada para peserta didik perlu diberi bekal pengetahuan serta nilai-nilai dasar sebagai suatu pandangan hidup yang sangat berguna untuk mengarungi kehidupan dalam masyarakat pluralis, baik dari aspek etnisitas, cultural, maupun agama. Jika dunia pendidikan berhasil melaksanakan tugas ini, maka pada gilirannya masyarakat kita dimasa depan makin lama akan berkembang menjadi masyarakat yang gagal, maka kita tidak bisa berharap generasi di masa depan akan mampu menampilkan sosok bangsa yang cerdas serta mampu menjunjung nilai-nilai luhur budayanya.
            Dalam proses pembelajaran misalnya, pengembangan suasana kesetaraan melalui komunikasi dialogis yang transparan, toleran, dan tidak arogan seharusnya terwujud di dalam aktivitas pembelajaran. Suasana yang member kesempatan luas bagi setiap peserta didik untuk berdialog dan mempertanyakan berbagai hal yang berkaitan dengna pengembangan diri dan potensinya. Hal ini menjadi sangat penting karena para pendidika juga adalah pemimpin yang harus mengakomodasi berbagai pertanyaan dan kebutuhan peserta didik secara transparan, toleran, dan tidak arogan, dengan membuka seluas-luasnya kesempatan-kesempatan dialog kepada peserta didik (Parkey: 1996). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemimpin yang mampu menumbuhkan suasana dialogis, kesetaraan, dan tidak arogan ataunondefensif serta selalu berupaya mendorong sikap positif, akan dapat mendorong terjadinya keefektifan proses pembelajaran (Goldsmith: 1996:236). Para pendidik maupun peserta didik, sesuai dengan kapasitasnya, harus berusaha untuk mampu saling menghargai, menghormati pendapat atau pandangan orang lain. Karena itu suasana pendidikan harus diciptakan dalam rangka mengembangkan dialog-dialog kreatif dimana setiap peserta didik diberi kesempatan yang sama untuk diskusi, berdebat, mengajukan dan merespon berbagai persoalan yang muncul dalam setiap kegiatan pembelajaran. Yang terpenting adalah bahwa setiap orang diberi kesempatan untuk menjadi sebijakasana mungkin menurut kemampuanya masing-masing. Suasana kesetaraan perlu dikembangkan dengan berorientasi pada upaya mendorong peserta didik agar mampu menyelesaikan berbagai perbedaan yang ada diantara sesame secara harmonis dan rasional.
            Pendidikan harus memiliki keseimbangan dalam perannya membangun peserta didik sebagai warga dunia, warga bangsa dan warga masyarakat. Dengan demikian, secar filosofis arah pendidikan harus menyeimbangkan antara perkembangan dlobal disatu sisi dan akar budaya dalam konteks local di sisi yang lain. Demikian pula arah pendidikan harus menyeimbangkan antara hal-hal yang akan berdimensi masa depan dengan hal-hal yang dimensi masakini. Secara substansi, arah pendidikan harus membekali peserta didik dengnakompetensi yang bersifat subject matter dan kompetensi lintas kurikulum yang diperlukan. Kompetnsi subject matter berkaitan dengan mata pelajaran yang harus benar-benar dipilih oleh satuan pendidikan sebagai dasar peserta didik untuk memamhami dan mengembangkan kompetensi dirinya. Kompetensi lintas kurikulum adalah kompetensi –kompetensi yagn dihutuhkan peserta didik sebagai individu, yang baik secara implicit maupun eksplisit terkait dengan berbagai mata pelajaran. Kemampuan memecahkan masalah, komunikasi, hubngan social dan interpersonal, kemmandirian, etika dan estetika. Kompetensi-kompetensi lintas kurikulum tersebut tidak dapat dipelajarai secara spesefik memalui mata pelajaran, tetatpi merupakan kemampuan yang diperoleh secaraholistik dan integrative anta rata pelajaran. Dalam kehidupan yang semakin kompleks seringkali kompetensi lintas kurikulum merupakan instrument yang sangat penting untuk dapat bertahan hidup.
            Secara pedagogis arah pendidikan terkait dengan pengembangan pendekatan dan metodologi proses pendidikan dan pembelajaran yang memanfaatkanberbagai sumber belajar. Kehadiran tenologi informasi dan komunikasi dalam kehidupan telah mengubah paradigma pendidikan yang menempatkan guru sebagi fasilitator dan agen pembelajran di mana peserta didik dapat memiliki akses yang seluas-luasnya kepada beragam media untuk kepentingan pendidikanya.
PEMBELAJARAN SEBAGAI PROSES PEMBERDAYAAN
Pandangan yang sudah berlangsung lama yang menempatkan pembelajaran sebagai proses transfer informasi atau transfer of knowledge dan guru kepada siswa semakin banyak mendapat kritikan. Penempatan guru sebagai satu-satunya sumber informasi menempatkan siswa atau peserta didik tidak sebagai individu yang dinamis, akan tetapi lebih sebagai obyek yang pasif sehingga potensi¬-potensi keindividualannya tidak dapat berkembang secara optimal. Ketidaktepatan pandangaan ini juga semakin terasa jika dikaji dan pesatnya perkembangan arus informasi dan media komunikasi yang sangat memungkinkan siswa secara aktif mengakses berbagai informasi yang mereka butuhkan. Dalam keadaan ini guru hendaknya dapat memberikan dorongan dan arahan kepada siswa utuk mencari berbagai sumber yang dapat membantu peningkatan pengetahuan dan pemahaman mereka tentang aspek-aspek yang dipelajari. Karena sesuai dengan UUD 1945, pendidikan seharusnya mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini berarti pendidikan adalah usaha untuk memberdayakan manusia. Manusia yang berdaya adalah manusia yang dapat berpikir kreatif, yang mandiri, dan yang dapat membangun dirinya dan masyarakatnya (Tilaar, 2000: 21).

Di samping persoalan-persoalan khusus pembelajaran di kelas, dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, setiap individu selalu dihadapkan pada berbagai persoalan. Seorang siswa atau mahasiswa menghadapi masalah kehidupan berkaitan dengan aktivitas atau tugas-tugas belajarnya. Kelak, bilamana dia telah menjadi pekerja (karyawan), ia juga akan berhadapan dengan berbagai masalah berkaitan dengan pekerjaannya. Tidak hanya itu saja, bahkan hampir setiap orang seringkali memiliki masalah dengan kepribadiannya sendiri. Sebut saja contoh yang sering kita dengar atau bahkan pernah kita ucapkan, misalnya seseorang yang mengatakan; saya tidak memiliki semangat, saya seringkali merasa malas, saya merasa kurang percaya diri, saya merasa sulit untuk menyesuaikan diri, saya yakin saya tidak mampu dan tidak kuat melakukannya, saya tidak yakin saya akan sukses, dan sebagainya.

Timbangan suatu masalah, seringkali tidak terletak pada eksistensi masalah yang dihadapi, akan tetapi lebih banyak terletak pada persepsi seseorang tentang masalah tersebut. Sebagai contoh, ada seorang karyawan (berinisial A) yang bekerja pada salah satu perusahaan. Dalam waktu yang sudah cukup lama dia merasakan beban yang berat berkenaan dengan tugasnya, lantaran pimpinannya kurang ramah sehingga ia merasa suasana kerja sangat tidak enak. Hal tersebut membuat dirinya merasa tidak betah lagi dan merasakan beban psikologis yang semakin berat. Karyawan lain (berinisial B) yang kebetulan sama dengannya juga berada di bawah seorang pimpinan yang sama, dan diperlakukan sama dengan dirinya. Akan tetapi karyawan ini tidak melihat masalah tersebut sebagai masalah besar, apalagi sebagai beban. Bagi dirinya yang terpenting bekerja dengan baik, dan berusaha mencapai hasil terbaik sesuai kemampuannya. Ilustrasi lain, misalnya terjadi pada dua orang guru yang sama-sama mengajar di sekolah dasar. Seorang guru bernama X merasa sangat berat bebannya menghadapi keragaman prilaku anak-anak sehari-hari. Dia bahkan seringkali tidak bisa tidur nyenyak karena beban yang dia alami telah merubah keceriaan dirinya menjadi pemurung dan bahkan stres. Guru yang lain bernama Y, juga mengajar di sekolah dasar, dan pada prinsipnya menghadapi masalah yang relatif sama dengan guru X. Namun dia menganggap hal-hal seperti itu sebagai sesuatu yang lumrah, dan bahkan dianggapnya sebagai dinamika yang harus ia hadapi.

Ilustrasi yang dikemukakan di atas penting untuk membiasakan siswa agar mampu mengenal dan menyikapi suatu masalah. Dengan pengenalan masalah ini siswa harus dilatih untuk mampu menempatkan posisi diri dan ketika menghadapi suatu masalah. Apakah kepribadian kita lebih identik dengan seorang, karyawan berinisial "A" seperti juga seorang guru bernama "X", atau lebih indentik dengan seorang karyawan berinisial "B" seperti juga seorang guru bernama "Y". Atau mungkin juga tidak indentik dengan kedua-keduanya. Hal itu sesungguhnya sangat erat dengan kepribadian diri sendiri yang seharusnya dapat dipahami dalam rangka mengenal dan memahami kekuatan dan kelemahan diri. Guru memiliki peran penting dalam hal ini, karena keberadaan guru tidak terbatas mengajar bidang studi tetapi memfasilitasi berkembangnya potensi-potensi siswa secara menyeluruh, termasuk mendorong mereka agar mampu memberdayakan dirinya dalam menghadapi berbagai masalah seperti dikemukakan di atas. Parkey dalam salah satu bagian tulisannya membahas peran guru sebagai pemimpin pendidikan. Dalam tugas ini guru memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan kepemimpinan di dalam diri siswa, terutama dalan menumbuhkan rasa percaya diri, kemampuan mengatasi masalah dan membangun sinergisitas dengan individu dan kelompok-kelompol lain (Parkay, 1998).

Dalam proses pembelajaran, pengenalan terhadap diri sendii atau kepribadian diri merupakan hal yang sangat penting dalan upaya-upaya pemberdayaan diri (self empowering). Pengenalan terhadap diri sendiri berarti pula kita mengenal kelebihan-kelebiha atau kekuatan yang kita miliki untuk mencapai hasil belajar yang kita harapkan. Pada sisi lain juga berarti kita mengenal kelemahan kelemahan pada diri kita sendiri sehingga kita dapat berupaya mencapai cara-cara yang konstruktif untuk mengatasi kelemahan-kelemaha tersebut. Jika kelemahan-kelemahan pribadi diri tidak kita pahami dengan baik, maka akan berpotensi membawa kita pada ketidakberhasilan.
Dalam sebuah buku yang berjudul “The seven Habits of Effective People”, 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif yang ditulis oleh Steven R. Covey, diketengahkan teori "Proses Kematangan Berkelanjutan" (Continum Maturity Process). Berdasarkan teori tersebut, manusia berkembang dari "tahap ketergantungan" (dependence) ke "tahap kemandirian (independence) sampai mencapai tahap "kesalingtergantungan" (interdependence). Menurut teori ini pula pada masa usia dini (bayi, balita), individu sangat tergantung pada bantuan orang lain atau "tidak berdaya", dan menginjak usia lebih tua (usia sekolah, remaja) dapat melakukan sendiri "mandiri", dan menginjak usia dewasa, tidak hanya sendiri melainkan dapat membantu orang lain, atau sebaliknya "saling tergantung". Dalam perjalanan hidup individu dari usia dini ke masa remaja, dewasa sampai tua, terjadi proses kematangan yang berkesinambungan (Covey, 1994: 38).
Paradigma Konstruktivisme dalam Pembelajaran
1.      Memahami Paradigma Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan respons terhadap berkembangnya harapan-harapan baru berkaitan dengan proses pembelajaran yang menginginkan peran aktif siswa dalam merekayasa dan memprakarsa kegiatan belajarnya sendiri. Hampir semua kalangan yang terlibat didalam mengkaji masalah-masalah pembelajaran mengetahui bahwa konstruktivisme merupakan paradigma alternative pembelajaran mengetahui bahwa konstruktivisme pengetahuan kita adalah konstruksi (Von Glasersfeld dalam Bettencourt, 1989 dan Matthews, 1994). Von Glasefeld mengemukakan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang. Melalui proses belajar yang dilakukan, seseorang membentuk skema, kategori, konsep dan struktur pengetahuan yang pengetahuan bukanlah tentang dunia yang lepas dari pengamat, akan tetapi merupakan hasil konstruksi pengalaman manusia sejauh yang dialaminya. Menurut Piaget (1971), pembentukan ini tidak pernah mencapai titik akhir, akan tetapi terus menerus berkembang setiap kali mengadakan reorganisasi karena adanya suatu pemahaman yang baru.
            Dalam mencermati realitas kehidupan sehari-hari, para konstruktivis mempercayai bahwa pengetahuan itu dalam diri seseorang yang sedang berusaha megetahui.

DAFTAR PUSTAKA


Azhar Arsyad, 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Suyono dan Hariyanto, 2011. Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Syaiful Sagala. 2011. Konsep dan Makna Pembelajaran: Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: CV Alfabeta.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia itu,kita yang rasa!

MEMBACA TAK SEKEDAR MENGEJA KATA

Hidup itu hanya soal hati