Kebersamaan

18 oktober 2019,

Sore ini tepat pukul 18.10 dan kami masih setia diruangan pertemuan ini sedari pukul 09.00 pagi tadi, tak lain dan tak bukan adalah untuk menyelesaikan deadline borang reakreditasi program studi pendidikan matematika. Iya, semua yang ada diruangan ini adalah pejuang, berjuang, saling bahu membahu dan menguatkan untuk tak letih menempuh jalan yang telah dimulai, bersama mengharap satu hal pasti, mendapatkan hasil terbaik. Akreditasi, kadang menjadi momentum yang menjadi ketakukatan kami sebagai Dosen, bagaimana tidak seringkali kami harus lembur bahkan pernah satu waktu kami menghabiskan waktu di Kampus hingga hampir tengah malam. Meski bukan momentum tahunan tapi saat harus menyelesaikan semua persyaratan administratif dalam pengurusan akreditasi sungguh menguras tenaga.

Bukan hanya karena kurangnya tenaga Sumber Daya Manusia, karena semua pengerjaan dokumen mulai dari deskripsi hingga menyiapkan bukti  untuk visitasi harus dikerjakan sendiri oleh dosen yang ada dalam lingkup program studi. Belum lagi ketika harus menghadapi aturan baru yang tentunya berujung pada dokumen baru ditiap periode pengajuanya. Alih-alih peningkatan mutu bagi Perguruan Tinggi namun kerap kali persyaratan baru yang muncul kian membebani Perguruan Tinggi utamanya yang ada di lingkup Perguruan Tinggi Swasta.

Kadang beberapa diantara kami juga merasa terbebani, apalagi saat mengingat ada makhluk kecil dirumah yang menantikan kehadiran kami, seperti anak saya yang selalu bilang "ibuk, kau darimana, aku mencari-carimu, jangan tinggalkan aku lagi ya" gadis kecil yang genap berusia 3 tahun pada juli kemarin ini memang selalu "berdrama" tiap kali saya pulang lembur. Kadang saya juga merasa bersalah,  meninggalkan anak bekerja untuk waktu yang lama, meski dengan alasan bekerja. Buat saya sangat tidak adil baginya ketika tak mendapatkan kehadiran saya dalam tiap tumbuh kembangnya. Ada hak yang saya rampas, dan ada kewajiban yang tak bisa saya penuhi.

Beberapa orang kadang merasa bahwa bekerja juga untuk masa depan anak, Namun buat saya, anak lebih membutuhkan kehadiran kita saat dia mulai belajar mengenali banyak hal dan belajar memahami lingkungan sekitarnya. Sedekat apapun kakek atau nenek, tetap saja kehadiran orang tua tak bisa tergantikan. Ialah sosok yang dikagumi, menjadi tokoh dalam tiap figur super heronya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia itu,kita yang rasa!

MEMBACA TAK SEKEDAR MENGEJA KATA

Hidup itu hanya soal hati