Anak adalah tentang bagaimana kita memperlakukanya

Tidak ada anak yang nakal yang ada hanyalah anak yang belum mengerti,
Tidak ada anak yang nakal yang ada hanyalah orang tua yang tidak sabar,
Tidak ada anak yang nakal yang ada hanyalah pendidik yang terburu-buru melihat hasil,
Jika anak dibesarkan dengan pujian, maka ia akan belajar menghargai dirinya,

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, maka ia akan belajar percaya diri,
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, maka ia akan belajar untuk saling mengasihi,
Jika anak diajarkan untuk berbagi, maka ia akan belajar menjadi dermawan,
Jika anak diajarkan untuk berlaku adil, maka ia akan belajar menjadi adil,

Tapi,
Jika anak dibesarkan dengan kemarahan, ia akan belajar membenci,
Jika anak diajarkan untuk iri hati, maka ia akan belajar kedengkian,
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, maka ia akan belajar rendah diri,
Jika anak dibesarkan dengan pertengkaran, maka ia akan belajar untuk berkelahi,
Jika anak dibesarkan dengan cacian, maka ia akan belajar memaki,

Sesungguhnya anak adalah peniru ulung. Ia melihat, memperhatikan dan kemudia melakukan sesuai apa yang ia cerna. Pola asuh orang tua tentunya memegang peranan penting dalam tumbuh kembang anak. Anak mulai belajar berbicara, mengenal benda dan berjalan adalah dari lingkup keluarga. Kata pertama yang akan keluar dari bibirnya tentunya adalah kata yang biasa ia dengar lewat telinganya. Itulah mengapa keluarga disebut sebagai sekolah utama bagi anak. Sistem keluarga itu seperti halnya miniatur negara, ada seorang kelapa keluarga, menteri dan juga rakyat didalamnya. Anak akan menduplikasi kebiasaan yang dibangun dalam keluarga. Anak akan mengucapkan hal yang sama seperti yang biasa ia dengar dalam keluarga. Pembentukan karakter awal seorang anak bergantung pada bagaimana orang tua mengasuhnya. Ketika pola asuh otoriter menjadi pilihan, maka anak akan patuh pada sang jenderal yang dalam hal ini biasanya peranya dilakukan oleh ayah. Jiwa kesiplinan akan terbentuk, namun sifat keras dan taat aturan mungkin juga akan terbawa ketika dia ada diluar rumah.

Adalagi adalah tentang asupan yang diberikan pada anak. Apakah asupan yang dimakan oleh anak berasal dari riski yang halal, atau mungkin tercampur dengan sesuatu yang subhat (meragukan), hal ini tentu juga dapat berpengaruh terhadap perangai anak. Bagi sebagian orang mungkin tidak mempercayainya, tapi saya selalu percaya jika kebaikan yang diberikan pada anak. Maka karakter baik pula yang akan terbentuk. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia itu,kita yang rasa!

MEMBACA TAK SEKEDAR MENGEJA KATA

Hidup itu hanya soal hati