Yang Paling Dekat Dengan Kita

Dari Imam syafi'i pernah menyampaikan "yang paling jauh dari kita adalah masalalu
yang paling dekat dengan kita adalah kematian"

Seperti pagi ini,kabar duka datang dari kampung tetangga. seorang wanita sekira umur 70 th telah berpulang,beliau yang setiap harinya menjajakan lontong sambal di pasar kini telah pergi. pagi itu semua berjalan baik-baik saja. suasana pasar yang dimulai sedari subuh dan kian meramai ketika matahari mulai muncul dari ufuk timur. 

pasar ini merupakan pasar "krempyeng" yang buka hanya sampai pukul 9 pagi saja. meski tergolong pasar desa yang kecil,namun tidak sulit menemukan apa yang anda cari. ada ragam makanan hingga peralatan rumah tangga dijual disini. semua panjual mulai menata daganganya sedari pagi,lalu lalang pembelipun kian memadati area pasar yang tak begitu luas ini. bagaimana tidak,luas pasar ini hanya sepanjang mata memandang. ada yang berdiri di ujung barat akan bisa melihat ujung timurnya ketika lengang.

pagi ini juga sama dengan pagi-pagi sebelumnya,termasuk untuk sosok wanita tua yang biasa disapa "mbah sin" beliau menata lontong berjajar di meja,mulai menata gorengan kemudian layah,kacang dalam toples serta bumbu lainya untuk meracik lontong sambal kecap. beliau memang bukan satu-satunya penjual lontong sambal di tempat ini,tapi sejauh yang saya tahu dagangan beliau yang paling laris diantara penjual lontong lainya. 

Berjualan makanan memang tidak semudah berjualan barang,jika penjual barang biasanya berkompetisi dalam harga dan kemasan saja,maka tidak demikian dengan penjual makanan. Rasa yang menjadi faktor dominan dalam pilihan pembeli,tapi juga banyak komponen lainya,soal kebersihan,kemasan sampai tentang track rakordnya. hehe....untuk hal yang terakhir kita skip ya,karena akan berujung pada perspektif pribadi.

pagi itu beliau berdagang seperti biasanya,melayani pembeli dengan sigap dan membuat racikan sambal kecap khas beliau. tak sampai pukul 9 daganganya sudah ludes. beliau mulai membereskan daganganya,meletakkan semua perlengkapanya dalam sebuah rijing besar yang biasa dibawanya. tetiba beliau bilang pada ibu penjual tempe yang berjualan tepat disampingnya beliau merasa pusing dan tetiba muntah. seketika itu dengan sigap penjual tempe memegangi beliau sembari mendekapnya.ketika akan bangun dr tempat duduk,lagi2 beliau hampir ambruk. (

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia itu,kita yang rasa!

MEMBACA TAK SEKEDAR MENGEJA KATA

Hidup itu hanya soal hati