Yang Paling Dekat Dengan kita (3)
Anak penjual lontong memutuskan menelepon pak mantri untuk memastikan kondisi penjual lontong,karena semakin lama kondisinya tak kunjung membaik,seluruh badanya dingin,dan mulai menggigil. beliau terus memegang kepala dan kesakitan.
Pak mantri tak mengatakan apapun tentang kondisi penjual lontong,ia hanya mengisyaratkan agar penjual lontong segera mendapatkan perawatan medis dirumah sakit. segera setelah mendapatkan instruksi dari pak mantri sang anak mencari kendaraan dari tetangga untuk membawa ibunya kerumah sakit. di desa memang tidak ada kendaraan yang di sediakan khusus di pustu ataupun polindes,maklum saja desa tak mampu menyediakan transportasi dengan beban perawatanya tiap bulan. untung saja jiwa gotong royong antar warga didesa masih terpelihara dengan baik,sehingga tidak sulit mencari bantuan transportasi ketika ada yang membutuhkan.
Saat dibawa menuju rumahsakit kondisi sang ibu mulai menurun,ia tak lagi sadar. hal ini membuat sang anak kian panik. ia menyuruh pengendara mobil sesegera mungkin melajukan kendaraanya. Pusat kesehatan terdekat adalah klinik yang berjarak sekitar 3 km dr rumah penjual lontong. melihat kondisi sang ibu,anak penjual lontong memutuskan untuk membawanya ke klinik terlebih dahulu untuk mwndapatkan pertolongan pertama. segera ketika sampai di klinik,penjual lontong dibawa ke IGD,dokter segera memeriksa kondisi penjual lontong. memasangkan tabung oksigen.
Dokter berkali kali memeriksa pasien dan bertanya dengan detail apa yang terjadi pada penjual lontong. anak penjual lontong menceritakan apa saja yang menimpa ibunya. beberapa kali pemeriksaan,sang dokter dengan wajah putus asa lantas mengalungkan stetoskopnya ke leher. yang sedari tadi digunakan untuk memeriksa pasien.
Ia mengintruksikan perawat untuk menghubungi petugas ambulan menyiapkan mobil. penjual lontong harus segera di bawa ke Rumah sakit utama dikota. peralatan di klinik tak memadai untuk mengatasi kondisi pasien.di sepanjang perjalanan anak penjual lontong terus membisikkan lafal tauhid pada ibunya,seakan sebuah pertanda keikhlasan kalau sang ibu tak dapat diselamatkan.
Penjual lontong mencoba mengikuti apa yang diucapkan anaknya dengan nafas yang tersenggal-senggal,dan sisa tenaga yang dimilikinya. Dan benar saja,belum sampai setengah perjalanan ditempuh,penjual lontong menghembuskan nafas terakhirnya. perawat yang ikut dalam mobil ambulan memastikan kondisi penjual lontong, dan beliau dinyatakan meninggal sore itu.
Komentar
Posting Komentar