Yang Paling Dekat dengan Kita (2)

Sesaat setelah muntah ibu penjual lontong itu kembali mencoba berdiri untuk pulang,dan belum juga menegagakkan kedua kakinya beliau ambruk.tapi langsung ditangkap lagi oleh ibu penjual tempe. beliau hampir tak sadarkan diri,sebelum akhirnya para penjual lain berkumpul dan berusaha memberikan pertolongan semampu mereka.

suasana mulai gaduh,orang-orang berlarian. semua berusaha meraba apa yang pertama harus dilakukan,karena memang tak ada yang punya kemampuan untuk melakukan pertolongan medis sesuai prosedur,maka hanya pengalamanlah yang menjadi andalan. ribut orang2 mulai beradu ide,ada yang menyuruh untuk memberikan  minyak kayu puti,memberikan minum air gula,hingga membaringkanya di salah satu toko disana.

usaha pertama dengan memberikan minyak angin berhasil setidaknya beliau mulai sadarkan diri dan bisa berkomunikasi dg orang lain. usaha yang kedua adalah belia diberikan minum air gula,mungkin karena ada yang berpikir bahwa beliau kurang darah atau mungkin masuk angin. semua berasumsi. dan ketika beliau meminum air gula tak berapa lagi beliau muntah lagi. segera salah seorang penjual lain memanggil putra penjual lontong.

rumahnya memang tidak jauh dr pasar hanya berjarak sekitar 100 meter. sehari harinya beliau memang diantar jemput oleh anaknya. waktu itu tak seperti biasanya sudah pukul 9 anaknya belum juga menjemputnya. tak berselang lama anak penjual lontong datang,segera membopong penjual lontong. ketika hendak mwmbopongnya tetiba penjual lontong itu pingsan,tak kuat berdiri lagi,seketika pecah tangis sang anak.

dua orang laki-laki penjual buah dan penjual sembako segera mengambil alih penjual lontong yang pingsan,dan menaikkanya diatas motor untuk segera dibawa pulang. penjualbako menyetir motor sementara penjual buah memegangi penjual lontong yang didudukkan di tengah.riuh ramai orang menyarankan agar segera dibawa dibawa kerumah sakit,tapi sang anak memutuskan untuk membawanya pulang terlebih dahulu menunggu kondisi penjual lontong membaik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagia itu,kita yang rasa!

MEMBACA TAK SEKEDAR MENGEJA KATA

Hidup itu hanya soal hati